Tukang Sol Sepatu

Siang hari, udara Surabaya tercinta ini sungguh menyengat. Belum lagi macetnya jalanan kota akibat pengerjaan proyek di pinggir jalan. Melewati daerah Kertomenanggal, ada kesejukan yang saya dapat. Melihat sopir truk+keneknya di satu tempat, dan tukang sol sepatu di tempat lain, namun tempatnya berdekatan. Mereka tidur beralaskan koran di bawah pohon rindang di pinggiran sawah. Ah, bayangkan betapa nyamannya mereka, hanya saya lihat sambil lalu, harus melanjutkan mengantar surat ke kantor PWM (Pimpinan Pusat Muhammadiyah) Jawa Timur.

Saat balik, teringat sepatu yang saya pakai sedang jebol alasnya. Teringat tukang sol sepatu tadi, saya pun kembali lagi kesana. Saya bangunkanlah dia (jadi ganggu tidurnya). Tahukah bagaimana tukang sol sepatu yang saya temui itu? Tubuhnya tak lagi muda, rambutnya memutih, kulit coklat terbakar sinar matahari, dan keriput disana-sini. Setelah kuberikan sepatuku untuk diperbaiki, sekedar berbasa-basi kutanyakan “Biasa istirahat siang teng mriki nggeh pak?” (Biasa istirahat siang disini ya pak?). Jawabnya, “Nggih, panas buanget Suroboyo, mriki enak mas, adem” (Iya, panas sekali Surabaya, disini enak mas, sejuk).

Memang benar kata pak sol sepatu (harusnya kupanggil mbah/kakek , sudah tua pak sol sepatu itu) disitu sejuk. Terasa angin semilir dari arah sawah, walau sawahnya terletak di tengah-tengah perumahan, hanya duduk beralaskan koran, dan beberapa meter dari tempat itu juga jalan raya dengan segala suara deru mobil, namun tak mengganggu kenyamanan berada tempat itu. Saat itu juga bisa kurasakan betapa nikmatnya tidur beralaskan koran, di bawah pohon rindang di pinggir sawah. Bisa anda bayangkan nikmatnya?

Saat membayar ongkos sol sepatu, karena kembaliannya kurang, maka saya bilang “ndak usah pak kembaliannya”. Dijawabnya dengan mata yang berbinar “suwun yo mas, suwun” (terimakasih ya mas, terimakasih). Ternyata sebegitu berartinya uang yang bagi kita tidak sebegitu berarti. Jadi cobalah untuk menghargai uang yang kita keluarkan untuk senang-senang, masih banyak orang yang kekurangan.

Sungguh indah pelajaran yang saya dapat dari kejadian ini, ternyata tak perlu mahal untuk mendapat suatu kenyamanan hidup. Asal anda mau dan tidak malu, itulah kuncinya.

Advertisements

2 comments

  1. nikmatnya kehidupan yang damai.. 🙂

    Like

  2. betul2 nikmat sekali,
    maaf za baru ngurus blog lg, tak pindah dari blogspot ke wordpress.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: