Bapak Tua Tukang Parkir

Berhentilah sejenak, perhatikan sekitarmu, ada hal kecil yang dianggap lalu saja oleh orang lain namun sejatinya dapat kau ambil pelajaran darinya.

Hari sabtu, seperti biasanya, saya pergi ke toko buku togamas. Buku yang saya cari ketemu sudah, sebagai kado untuk kawan baik saya semasa SMP-SMA-Kuliah, Hardiyanto Dwi Putra Wijaya yang akan meneruskan S2 ke Berlin, Jerman.

Sepulangnya saya mampir ke supermarket di daerah jl.Ciliwung karena haus tak tertahankan. Saya parkir sepeda motor di samping motor matic, seorang bapak tua menghampiri dengan langkah pelan, sangat pelan. memberikan sebuah karcis, lalu saya pun segera masuk membeli minum.

Sudah menjadi kebiasaan, usai beli saya duduk sebentar di emperan supermarket, membuka tutup botol minuman isotonik, lantas menengguknya. Segar sekali rasanya.

Sambil minum saya perhatikan sekitar, bapak tua itu berjalan tertatih, meniup peluit. Motor yang tadinya akan beranjak pergi kini berhenti, pengendaranya mengeluarkan selembar uang seribuan. Menyerahkan pada bapak tua dan senyum keduanya pun terkembang. Lalu ia berjalan ke arahku.

bapak tua tukang parkir, menuju ke arahku

bapak tua tukang parkir, menuju ke arahku

Bisa ditebak profesi bapak tua itu tukang parkir, tiba-tiba ponsel saya bergetar, ada SMS masuk, baca lalu balas. Saat saya toleh ke depan bapak tua itu sudah tak ada, ah ternyata ia ada di samping, duduk berjarak sekitar setengah meter. Sambil menghitung uang ia melirik sebentar ke arah saya. Mungkin ia heran mengapa anak muda ini memperhatikannya dari tadi.

“Griyane teng pundi pak?” (Rumahnya dimana pak?) tanyaku padanya, “Gang sebelah niku lho nak” (di gang sebelah itu lho nak) sambil tangannya menunjuk ke arah tembok bagian kanan bangunan supermarket.

bapak tua tukang parkir menghitung uang

bapak tua tukang parkir menghitung uang

“Oooh, sampun dalu kok tasih njagi parkir pak, mboten istirahat mawon teng griyo?” (Ooh sudah malam kok masih njaga parkir pak, tidak istirahat saja di rumah?) kulihat jam saat itu sudah mendekati pukul 19.30. “Mboten nak, kulo sungkan kalian mantu kulo yen nganggur teng griyo, mending teng mriki wonten kegiatan” (tidak nak, saya tidak enak hati dengan menantu saya karena saya hanya nganggur di rumah, lebih baik disini ada kegiatan).

Saya pun mengernyitkan dahi, bagaimana bisa ia sungkan kepada menantunya, seadangkan menurut saya, ia sebagai seorang mertua dan sudah berumur sekitar 60aan tahun tak seharusnya ia merasa tidak enak hati. Ada apa gerangan.

Seakan faham dengan penasaranku, bapak tua itu melanjutkan bicaranya, “inggih nak, mantu kulo niku wedok, anak kulo lanang sampun tigang tahun stroke, estrine sabendindo kerjo nggolek nafkah” (iya nak, menantu saya wanita, anak saya lelaki sudah tiga tahun stroke, istrinya yang setiap hari mencari nafkah”. Saya pun tertegun mendengar ceritanya “hmmm, ngoten nggih pak, wah repot nggih pak yen sing lanang mboten iso nopo-nopo sampunan” (hmm, begitu ya pak, wah repot ya kalau yang lelaki sudah tidak bisa berbuat apa-apa).

Obrolan kami terhenti, ada motor matic mau pergi, bapak tua itu menuju kesana dengan tertatih, kemudian mengambil karcis. Anak si pengendara motor yang berumur kira-kira lima tahun dielus rambutnya oleh bapak tua, seakan itu cucunya. Si pengendara hanya melihatnya sambil tersenyum, kemudian membantu menaikkan anaknya ke motor. Si pengendara motor mengambil selembar dua ribuan, memberikannya pada bapak tua. “kembaliannya ambil saja pak”, dan bapak tua itu tersenyum.

bapak tua tukang parkir

bapak tua tukang parkir

Saya lihat jam tangan, sudah pukul delapan malam rupanya, segera saja berdiri menuju motor, mengambil kunci motor di saku, lalu duduk di atas jok. “Pak, kulo wangsul disik” (pak, saya mau balik dulu) memberikan selembar uang kepadanya, dan dengan segera saya berikan tanda padanya, ia faham.

“Suwun nggih nak, mugo rejekine lancar, anak e sehat-sehat kabeh. Lho mboten kalian estrine toh?” (terimakasih ya nak, semoga rejekinya lancar, istri dan anaknya sehat semua) saya heran betul dengan pertanyaan bapak tua itu.

“Lhoo, kulo dereng nggadah bojo pak, tasih 24 taun” (Lhoo, saya belum punya istri pak, masih 24 taun) jawab saya dengan ketawa campur miris. “Oalah nak, tak kiro sampean sampun umur 30an ngoten” (oalah nak,saya kira anda sudah berumur 30an tahun begitu) ujar bapak tua itu sambil ketawa memperlihatkan giginya yang ompong.

“Hahaha, nyuwun dungone mawon pak, ben ndang ketemu sing cocok, amin ya Allah, kulo balik disik” (hahaha, minta doanya saja pak biar segera bertemu yang cocok, amin ya Allah, saya balik duluan) segera kustarter motor dan berputar arah meninggalkan supermarket. Tampak dari spion bapak tua kembali berjalan tertatih untuk menuju ke emperan supermarket.

:D

semoga bertemu jodoh yang cocok 😀  sumber : gambar

Penutup

Di jalan, saya masih berpikir tentang obrolan dengan bapak tua tadi. Orang setua itu, bekerja jadi tukang parkir, malam hari, dengan jalan tertatih dan tiupan peluit yang hampir tidak terdengar bila dibandingkan dengan bisingnya jalanan. Ia tanpa malu melakukan itu.  Mungkin rasa iba kepadanya tidak akan menjadi terlalu dalam apabila saya tidak ngobrol dengannya. Itulah mengapa saya suka ngrobrol dengan orang-orang seperti bapak tua ini, dari kejadian singkat kita bisa menumbuhkan empati dan ada beberapa pelajaran yang kadang membuat kita introspeksi diri.

Maka seperti yang saya katakan di awal “Berhentilah sejenak, perhatikan sekitarmu, ada hal kecil yang dianggap lalu saja oleh orang lain namun sejatinya dapat kau ambil pelajaran darinya”.

NB :

*seluruh kejadian pada post ini tanggal 23 Maret 2013, semoga buku bercover biru dan orange itu bisa memberi pencerahan untuk membangun bangsa Har!

*terimakasih kepada kawan saya yang mau menjadi editor blog post ini.

buku cover biru dan orange untuk hardi

buku cover biru dan orange untuk hardi, yg putih buat saya sendiri

Advertisements

5 comments

  1. Suka dengan tulisannya. Tulisan ini jd mengingatkan saya pada petikan ayat Surat Ar-Rahman. 🙂

    Like

    1. oh ini Irma? ayat yang mana ya?
      yg inikah >> “Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?” 🙂

      Like

      1. Hehe. Iya mas, betul. 😀

        Like

  2. yup, perhatikan sekitar kita 🙂
    Kalau aku sih, biasanya suka memperhatikan pemulung.
    Mereka itu kalau diperhatikan sangat keren 🙂
    Mereka pagi-pagi buta udah bekerja, keliling, beda banget ma anak2 muda kebanyakan, klo pagi masih pada tidur & baru bangun siang ato bahkan sore hari.
    Pemulung emang bener2 keren 🙂 Mereka rajin 🙂 Semoga mereka tetap sehat 🙂
    Aku mikirnya pemulung itu pahlawan lingkungan, dia mungutin barang-barang yang dibuang ma orang lain (klo gak ada mereka, gak tahu deh siapa yang mau ngamblin sampah2 bekas gt).

    Trus pernah juga ada suatu kejadian lain, seorang anak muda naik motor, disrempet ma taksi. Taksinya kabur gt aja, Anak muda itu udah teraik-teriak minta tolong, tapi gak ada yang mau berhenti bentar buat nolong dia. Hanya seorang pengemis tua, yang datang dan menolong dia, memberikan perhatiaannya gitu.

    Hmmm…

    Like

    1. banyak profesi keren yang semestinya tidak dipandang rendah, tapi apa daya begitulah adanya stereotip di masyarakat. jadi teringat beberapa status bang tere liye di page fb nya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: