Kunjungan Kawan, Undangan Nikah, dan Beberapa Obrolan Terkait

Minggu pagi lalu saya  mendapatkan kunjungan dari kawan semasa SMA, memang saya sudah tahu sebelumnya bahwa rencana ia ke rumah saya orang tua saya adalah untuk mengantarkan undangan nikah. Ia datang tepat jam 10 pagi sesuai perkiraan dimana saya juga baru sampai rumah setelah sehari sebelumnya menginap di rumah paman saya.

Namanya Anugrahini Irawati, perempuan berprofesi dokter lulusan FK Unair. Ia perempuan yang baik, supel, muslimah taat, dan tentunya pintar!. Ia datang dengan membawa beberapa undangan nikah, salah satunya diberikan kepada saya selaku orang yang bertugas menyebarluaskan informasi kepada teman sekelas saya, juga kebetulan karena rumah kami hanya berjarak sepuluh menit jika ditempuh dengan berkendara motor.

undangan nikah Ira

undangan nikah Ira

Setelah undangan diterima, baca-baca sebentar. Beberapa obrolan ringan mengalir begitu saja sampai tiba-tiba saya teringat buku yang baru kutemukan saat buka-buka lemari buku ibu saya.

“Ra, aku ada buku bagus buat kamu” sambil menunjukkan buku Fikih Keluarga dari penulis Syaikh Hasan Ayyub.

“Waaaaaaaaaaa, fikar!” Ira terperangah, ekspresinya kaget campur senyum gitu.

“Hahaha, kaget yo, ini bukunya ibukku kok, mau kubaca. Tapi kamu duluan ae deh, monggo kalo mau dipinjem”

“Wiih beneran? aku udah baca-baca buku sejenis sih fik, ada yang judulnya Penganten Al Qur’an, tapi kalau yang bukumu ini lebih bagus materinya” kata Ira sambil membuka-buka bagian daftar isi.

Fikih Keluarga - Syaikh Hasan Ayyub

Fikih Keluarga – Syaikh Hasan Ayyub

Obrolan lalu beralih ke masalah komunikasi dengan calon mertua utamanya berkaitan dengan persiapan pernikahan. Ah memang banyak juga yang harus dipersiapkan untuk menuju kesana. Jadi kepikiran, untuk mencapai suatu tujuan besar biasanya bakal ditemui beberapa ujian. Begitu juga dengan proses menuju pernikahan.

Karena keasyikan ngobrol saya sampai lupa mempersilahkan Ira untuk minum air mineral di depannya.  Tak lama kemudian kami melanjutkan obrolan, kali ini membahas mahar. Mahar diminta oleh pihak wanita, namun jangan sampai memberatkan pihak lelaki nya. Ira kemudian menerangkan mahar ketika di jaman Rasulullah ada yang berupa hafalan surat Al Qur’an, namun pointnya bukan di hafalannya tapi bagaimana si pengantin nanti mengamalkan isi dari Al Qur’an di kehidupan pernikahannya.

Bicara pernikahan otomatis Ira menyinggung surat ke 55 dan 56 yaitu Ar Rahman dan Al Waki’ah. Ira menjelaskan kandungan serta keutamaan surat Al Waki’ah dan surat Ar Rahman. Al Waki’ah merupakan surat yang banyak menjelaskan tentang alam kematian dan alam kubur. Hingga diharapkan dengan memahami arti dari Al Wakiah lebih mengingat bahwa tujuan hidup bukan hanya untuk dunia saja namun juga akhirat.

Surat Ar Rahman yang (kata Ira) merupakan surat dengan bahasa paling indah, menentramkan hati, juga kandungannya banyak menerangkan nikmat yang diberikan kepada manusia. Saya pun penasaran, search terjemahan di Quran.com dan memang ternyata benar.

Membahas Ar Rahman dan Al Waki’ah saya jadi ingat akan ucapan seseorang kepada saya. Hmmm. Dari obrolan selama sekitar satu jam, saya jadi banyak merenung.

Sebagai penutup, ingatlah akan ayat paling populer dari surat Ar Rahman ini.

55_16

Fabi-ayyi ala-i RabbikumatukaththibanDan nikmat Rabb manakah yang engkau dustakan.

*Terimakasih Ira, nanti bagi-bagi ilmunya dong dalam mengarungi hidup berumah tangga 😀

Advertisements

7 comments

  1. mantab sharing nya gan!!
    “maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?” :))
    selamat buat mbak ira, dan semoga yang lain bisa cepat menyusul..aamiin

    Like

    1. makasih gan 🙂 amiin semoga yang lain segera menyusul jika sudah siap.

      Like

  2. Halina Said · · Reply

    Ayat paporit saya itu… 😀

    Like

    1. setuju Han, ayat ini banyak diulang di Ar Rahman, Lalu mengapa banyak berulang? mungkin agar lebih banyak orang yang memahami makna dibalik perulangannya.

      Like

      1. Halina Said · ·

        Menurutku itu berhubungan dengan ayat pertama di Al Quran. Yaitu Alfatihah ayat 1. Bismilahhirrahman nirrahim. Sifat utama yang dimiliki Allah sejatinya adalah Arrahman Arrahim. Kepada siapapun makhluknya, Arrahman Arrahim ini selalu meliputi. Mungkin karena itu Fabiaayialairobbikumatukadziban ini diulang-ulang, untuk memberi tahu bahwa kasih sayang Allah maha luas dan tidak terbatas.

        Like

  3. ah, terimakasih atas sharing makna yang kau dapat dari ayat tersebut. 🙂

    Like

  4. Annisa · · Reply

    Ayat favorit saya juga 😀

    Sebelum tahu artinya, saya jatuh cinta dengan surat Ar-Rahman gara-gara rekaman tartil yang dibawakan Syaikh Mahmud Al-Husari.
    Populer, sering ada sebelum adzan dikumandangkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: