Perjalanan Pare Kediri – Panggul Trenggalek, Menuju Nikahan Kawan

Hari ini saya menghadiri acara nikahan kawan kuliah, Korsa Satria Putra namanya. Saya pergi kesana bersama tiga orang kawan yaitu Adhitya Bhawiyuga, Himma Ramadhan, dan Martinus Hermawan. Berikut ini catatan perjalanan kami.

Chapter 1. Menuju Setia Rasa

Masing-masing dari kami bersepakat untuk berkumpul di depot Setia Rasa. Depot paling populer se kota pare milik Adhitya Bhawiyuga.

Sesampainya himma dan martin disana, dilanjutkan menjemput fikar di perempatan desa tulungrejo untuk kemudian langsung wisata kuliner malam nasi & mie goreng di sekitaran alun2 pare.

Masakan khas kediri kata panjul, karena dimasak menggunakan arang. Bercerita banyak, juga beberapa curhatan menyelingi.

Sepulangnya,Ā  perjalanan kami arahkan ke angkringan ceker setan. Knapa kok ke angkringan itu? Eh ternyata karena banyak ceweknya. lol. Tapi ya bukan itu tujuan utamanya, utamanya sih karena pengin nyobain yang namanya angkringan.

Chapter 2. Pare – Tanggul, Trenggalek

Perjalanan kami dimulai dari rumah panjul (bhawiyuga) sekitar pukul 9 pagi. Menaiki taruna biru berplat AG perjalanan dimulai dari pare kediri menuju trenggalek.

Perjalanan yg menurut panjul dekat, ternyata menurut GPS bakal memakan jarak 130km. Itu bisa ditempuh sekitar 3 jam.

image

Jalanan menuju kota trenggalek lancar hingga akhirnya papan penunjuk jalan menunjukkan arah lokasi nikahan, Panggul.

Jalan yg dilalui tak mudah. Melewati perbukitan hijau rimbun namun udara panas terasa. Jalanan berkelok tajam, naik turun, tengok kiri nampaklah jurang.

image

Apalagi jalanan sedang di renovasi, bisa engkau bayangkan jalan berkelok kiri jurang dikombinasi jalanan berpasir dan berbatu. Medan yg cukup sulit, untunglah memiliki pengendara handal, bang Panjul.

image

image

 

Chapter 3. Sampai di Lokasi

Selepas 4 jam perjalanan sampailah kami di lokasi. Janur kuning melengkung di ujung gang.
image

Korsa nampak gagah diatas kuade, juga istrinya cantik jelita. Mereka laksana raja dan ratu pada acara itu.

image

Tersaji beraneka rupa masakan. Capcay, sop, sate ayam, sate kambing, gulai kambing, tak lupa pula es krim dan juga es buah.

image

Favoritnya martin adalah es puter dicampur dengan nangka dari es puter. Sampai 3x dia nambah saking enaknya (atau krn perutnya belum juga penuh? šŸ˜› )

Chapter 4. Negeri di Atas Awan

Setelah puas menikmati hidangan lantas kami pun pulang. Di tengah perjalanan kami temukan spot menarik, saya menyebutnya negeri di atas awan (istilahnya mirip di novel 5cm ya. :D)

Dari spot itu dapat diamati indahnya pegunungan, naik turunnya permukaan bumi membentuk lembah dan bukit. Langit menghampar luas diselingi awan serupa kapas. Bahkan dapat kita saksikan bulan yang masih nampak di langit biru. Subhanallah.

image

Tak lupa pula kami foto bersama sebagai pengingat kelak di masa depan.

image

Nah, foto yang ini cocok untuk poster film šŸ˜›

image

Sekian. Ada pembaca yang pernah berfoto juga disana? Silahkan komen di bawah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: