Sekilas Cerpen “Setan” karya Putu Wijaya

*Postingan berikut saya ambil dari serial twit akun @superpikar (akun saya sendiri) tanggal 28 Agustus 2013 lalu, tentang cerpen “Setan” karya Putu Wijaya. Saya tidak menganalisis, tidak juga mengkritisi, hanya menikmati cerita yang disajikan Cerpen. Ceritanya unik, mengangkat setan dan pak guru sebagai tokoh utamanya. Beberapa penggalan dialog dan narasi dalam cerpen ini menarik untuk disimak.

—————————————————–

Tadi siang saya baca cerpen Putu Wijaya, berjudul “Setan” . Cerpen ini dimuat dalam jurnal “Prosa” edisi 2, terbitan tahun 2002. Bercerita tentang seorang guru paling hebat, mampu mengocok otak yang membantu menjadi encer, pintar tak terkira. Hingga suatu saat datanglah seorang setan dari neraka, ingin berguru padanya.

Ceritanya si setan ini les privat pada sang guru. Sang guru awalnya tak mau, karena diancam terus oleh si setan terus akhirnya mau juga.

“Set, kamu boleh ikut les. Tapi, kamu mau ikut les apa?” . ” … Aku cuma minta supaya aku dilatih jadi pahlawan” .

“Apa?” “Pahlawan! Aku ingin dilatih jadi pahlawan. Aku sudah bosan jadi setan.” Guru bingung. “Masak setan mau jadi pahlawan?”

Lalu sang guru menyarankan si setan agar jadi pahlawan di negara bernama Indonesia, karena disana banyak pahlawan tapi palsu perilakunya. Sepuluh tahun berlalu dan si setan kembali ke rumah gurunya. Ia curhat perjuangannya untuk jadi pahlawan di Indonesia terlalu mudah.

“Begitu datang, melihat tampangku mereka tahu aku setan. Tanpa tanya2 lg semua serentak melambai, berteriak histeris: Setan! Setan!”

“Tanpa tanya-tanya lagi, aku diarak keliling dan dinobatkan jd pahlawan. Aku diberikan kehormatan dan kekuasaan”

“Guru, aku kecewa karena tanpa melakukan apa-apa, aku sudah jadi pahlawan”

“Padahal aku ingin berdarah, bukan dikasihani atau disuap dengan kemanjaan tolol begitu. Apa artinya sukses tanpa perjuangan.”

“Di mana letak kebahagiaan dan kepuasan kalau semuanya begitu mudah seakan-akan hadiah? Aku merasa terhina!”

Selepas curhat, setan pulang ke kampung halaman, negeri setan. Namun ia malah diburu & dihabisi karena berkhianat, menjadi pahlawan.

“Mereka memaksaku untuk kembali menjadi menjadi setan lagi seperti mereka tapi aku tidak mau!”

“Kenapa tidak mau?” tanya Guru.

“Sebab, aku ingin menjadi pahlawan”

“Kalau begitu mereka akan membunuhmu”

“Kenapa pahlawan harus mati?”

“Karena itu sudah janji.”

“Bagaimana aku bisa menjadi pahlawan kalau aku mati?”

“Bayang-bayang perbuatanmu akan hidup abadi meneruskan cita-citamu,.. jadi menara tempat mencari kekuatan dari badai yg akan datang”

Pertentangan dalam diri si setan karena ingin jadi pahlawan di negeri setan dan di Indonesia. Namun ia tak bisa memilih keduanya.

“Kalau begitu selamat jalan”

“Terima kasih, Guru, maafkan..”

Belum selesai ucapannya , berjuta tangan setan dari segala penjuru menghujat ke tubuh Setan yg tak berdaya. Terdengar letusan dahsyat. Tubuh Setan meletup berkeping jadi abu dalam sinar yang menyilaukan disertai suara yang memekakkan telinga. Kemudian sunyi kembali.

Guru berbisik lirih, “Pahlawan adalah seorang yang rela mati dan kehilangan segalanya demi cita2 luhur yg akan dinikmati penerusnya.”

“Kamu lihat sendiri sekarang, beginilah takdirnya, apa kamu tetap ingin jadi pahlawan?” …Tempat itu kembali sepi, kosong melompong.

—————————————————–

Jurnal Prosa edisi 2

Jurnal Prosa edisi 2

Sekian twit saya tentang cerpen Putu Wijaya – Setan. FYI (for your information), “Prosa” adalah jurnal khusus yg menerbitkan tulisan tentang dan dari genre prosa. Ringkasan jurnal Prosa edisi 2 “Oposisi, Seks, Amerika” (dikutip dari book.store.co.id)

Edisi kedua Jurnal Prosa ini terdiri dari karya-karya fiksi masterpiece ditambah dengan dialog antara Pramoedya Ananta Toer dan Martin Aleida.

“Seperti roti dan cinta, bahasa digunakan bersama-sama dengan yang lain. Dan umat manusia berbagi tradisi. Tak ada penciptaan tanpa tradisi. Tak seorang pun mencipta dari tiada.” – Carlos Fuentes –

“Sejak kecil saya merasa tertindas. Dengan sendirinya menghadapi apa saja, ya, saya memiliki sikap oposisi terhadap yang mapan. Dalam skala yang lebih luas, sikap oposisi ini mendorong saya untuk mempelajari sejarah, supaya bisa menjawab mengapa bangsa saya jadi begini. Kata-kata kuncinya adalah oposisi terhadap penindasan. Oposisi terhadap kemapanan jabatan, tetapi juga kemapanan berpikir, sehingga waktu menulis, praktis saya melawan kemapanan itu.” – Pramoedya Ananta Toer –

“Nada cerita yang sadar diri terus berlanjut …. Pengarang dengan ringan hanya berharap bahwa rangkaian ingatan-ingatan yang tak tersusun itu mungkin dapat membentuk suatu rasa yang menyenangkan seperti rasa gado-gado, atau membentuk suatu keindahan aneh seperti dalam musik Barat yang pada mulanya terasa buruk dan asing bagi telinganya.” – Keith Foulcher –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: