Cerpen : Pin Bunga Teratai Mei Lin

oleh : Izzul Putra

Kembang-kembang[1] kuning mulai berguguran dari pucuk-pucuk pohon sono[2]. Sisi jalanan kota ini nampak eksotis, gradasi kuningnya kembang ke hitamnya aspal. Tak kulihat para petugas kebersihan yang biasa menyingkirkan apapun yang nampak tak indah dari jalanan. Entahlah, mungkin petinggi kota ini memiliki pikiran yang sama denganku, turunnya kembang kuning memenuhi sisi jalanan menciptakan suasana ritmis yang hanya bisa kita nikmati seminggu dalam setahun.

Aku masih terus berjalan membelah lengang jalanan kala subuh, menikmati sejuknya udara pagi, akan kuakhiri ketika sinar mentari mulai menerpa tubuh. Melintasi jalan Arjuno selalu mengingatkanku pada kenangan itu, Mei Lin. Perpisahan kita di bawah pohon sono di jalan Arjuno.

“Ruslan, papa memutuskan untuk pindah ke Singapura. Entah sampai kapan kami di sana. Konflik di negeri ini makin tak kondusif” ucapmu, matamu terpejam waktu mengucapnya.

“……” aku terdiam, tak tahu harus berkata apa, hanya desau angin saja kurasa. Kita saling pandang, kadang kita bisa paham pada apa yang tak terucap seperti yang terjadi saat ini.

Aku bisa melihat matamu mulai kalah, setitik embun menggantung di ujungnya.

“Aku tak mungkin ikut denganmu pindah ke Singapura, Mei. Pun juga bila menikah denganmu, tak bisa kubayangkan beban yang harus kutanggung. Bapakku sudah meninggal, akulah ayah bagi tiga adikku. Aku berjanji pada Bapak akan menyekolahkan mereka sampai universitas!”

“Tapi Ruslan, andai kau melamarku lima belas tahun lagi pun aku akan menunggumu. Bila janji pada bapakmu telah tertepati, kembalilah kepadaku.”

“Kau perempuan Mei, tidak baik tak bersuami selama itu. Sudah seperempat abad kau hidup. Tidakkah kau khawatir Mei? Lagipula kita berbeda Mei, kamu paham kan?”

Kini nampak matamu kalah, setetes embun menggantung di ujungnya. Bibirmu nampak menahan sesuatu.

“Ini ambillah Rus” kau lepas pin bunga teratai berkilau permata kesayangan dari kemejamu. Lalu kau berlari pergi. Ingin diriku mengejarmu, namun kakiku tertahan. Aku paksakan untuk menatap punggungmu menjauh. Lantas mataku kalah, hatiku lelah.

white%20lotus%20flower crop

Aku masih terus berjalan membelah lengang jalanan kala subuh, matahari mulai menampakkan sinarnya, akan segera kuakhiri perjalanan ini. Namun reflek saja senyumku merekah. Kutemui kembali senyummu Mei, ah sayang senyum itu dari bibir perempuan berblazer hitam. Mungkin ia sedang menanti angkot yang kan membawanya ke tempat kerja.

Hei! kali ini aku melihat tatapan matamu. Ah sayang itu dari mata seorang gadis berseragam putih abu-abu. Mengenangmu sering membuatku berhalusinasi menikmati setiap keindahan yang terpancar dari tubuhmu.

Tapi, sudahlah. Tak mungkin juga aku bertemu denganmu kembali. Aku dan kamu bagaikan bumi dan langit. Aku Jawa, Kamu Cina. Aku miskin, kamu kaya. Mungkin benar cinta memang gila membuat orang jadi buta.

Langkahku tertahan, waktu seakan berhenti. Pada perempuan berjilbab merah marun kutemukan pin bunga teratai berkilau permata kesayanganmu. Kupicing-picingkan mata, sama persis! Sungguh aku tak percaya. Lamat-lamat kupandang wajahnya.
“Mei, benarkah itu kamu?” gumamku dalam hati.

TIIIIIN! suara klakson mobil mengagetkanku. Sebuah tangan lembut menyeretku ke tepi jalan. Aku hanya bisa memandang jilbab merah marunnya dari belakang.

“Kek, kalau jalan hati-hati ya jangan terlalu ke tengah” Mei Lin, aku masih tak percaya hari ini bisa kembali mendengar suaramu.

“Terimakasih Mei” mataku berkaca-kaca, kupandang pin bunga teratai di jilbab merah marunmu. Selama ini kau punya dua pin rupanya. Kurogoh saku, pinmu masih kusimpan Mei, seketika itu juga kuserahkan pin yang dulu kau berikan padaku.

“Mbak, segera pergi saja! dia kakek-kakek stress ditinggal pacarnya pergi pas jaman revolusi” teriak seorang tukang tambal ban di pinggir jalan. Mei lari menjauhiku, tukang tambal ban itu yang dituju.

“Iya Pak, masa saya diberinya gulungan kawat berkarat berbentuk bunga teratai” sayup-sayup kudengar ucapan Mei Lin pada lelaki tukang tambal ban itu.

“Duh Mei, mengapa kau tak mengingatku” gerutuku.

Surabaya, 10 Nopember 2013
Selamat hari pahlawan! Merdeka!


[1] kembang : bunga
[2] sono : pohon angsana, biasa ditanam di pinggir jalan kota Surabaya

* sumber gambar : flowerwallpaperfree
* cerpen ini merupakan pengembangan dari puisi Kau Menjelma dimanapun .
* cerpen ini bagian dari proses seleksi recruitment menjadi anggota FLP Surabaya 2013.

Advertisements

2 comments

  1. Halina Said · · Reply

    Saya suka, idenya segar 😀
    cuma butuh sedikit revisi peletakan diksi 😀

    Like

    1. terimakasih sarannya kakak, belum terlatih kejar tayang 😛

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: