Cerpen : Adrian (1)

oleh Winona Rianur dan Izzul Putra

Kata Indira, sahabatku, kita nggak bakal tau kapan dan di mana kita akan menemukan dia, sosok yang tanpa pernah diundang untuk menetap lama dalam pikiran. Si pencuri hati ini tidak akan pernah lebih dulu meminta izin untuk berkeliaran di bilik jantung, menari-nari dalam aliran darah, dan merangkai kenangan-kenangan di pikiran. Jadi, berhati-hatilah, cinta bisa kapan saja memutarbalikkan duniamu. Kapan saja. Lewat cara apa saja.

*

How can I move on when I’m still in love with you?
Cause if one day you wake up and find that you’re missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thingking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet
And you’ll see me waiting for you on the corner of the street

The Man Who Can’t Be Moved – The Script

“Gila ya, kamu nggak bosan dengerin lagu ini melulu? Setiap kali aku main ke kamarmu, selalu lagu ini lagi yang terputar, sudah hampir enam bulan loh, Nda, dan kamu masih aja…”

“Belum bisa move on?” lanjutku sebelum Indira menyelesaikan kata-katanya. “Lagunya enak kok, jadi kenapa harus bosan?” ucapku sambil meminum susu cokelat hangat yang sengaja dibuatkan sahabatku di dapur beberapa menit lalu. Indira paham benar apa yang paling kusuka saat hujan kecil-kecil bertamu ke bumi.

“Kamu tahu nggak, ketika senang, kita akan cenderung mendengarkan lagu dari musiknya saja, sementara ketika sedih, kita justru akan menikmati liriknya. Dan bisa kupastikan kalau enam bulan ini yang kamu nikmati adalah lirik The Man Who Can’t Be Moved sambil memutar film kenangan di kepalamu. Nggak kasihan sama hatimu sendiri ya?” Indira  pun berdiri dari tempat tidur dan kamarku mendadak hening, menyisakan bunyi rintik hujan yang menghantam atap rumahku saja, karena nyanyian patah hati yang mengenaskan tadi segera hilang ketika telunjuknya menekan tombol bergambar kotak, simbol dari stop.

Aku yang memang sedang menikmati lirik lagu itu hanya bisa pasrah, cemberut, memutar arah kursi belajar, dan menatap kosong ke layar laptop yang sejak tadi menyala di hadapanku; membuang muka dari Indira.. Please deh, memang dia tahu apa tentang move on? Memangnya dia tahu bagaimana rasa sakitnya ditinggalkan demi perempuan lain? Memangnya Indira tahu sesulit apa harus membabat habis harapan dan melupakan kenangan seorang diri? Hih! Dia mana tau rasanya itu semua!

Tanpa sadar, jari-jari ini mengetikkan URL Tumblr.com di browser, sebuah weblog yang sudah enam bulan belakangan jadi tong sampah kata-kata sok puitisku. Bukan, aku bukan penulis, penyair, pujangga, atau apalah yang orang lain sematkan pada si pemuntah kata-kata. Aku hanyalah aku, seorang perempuan yang beberapa bulan lalu sedang jatuh cinta namun lelaki yang kujatuhi cinta justru menjatuhkan cintanya ke perempuan lain. Tahu akibatnya? Hati yang tengah jatuh bebas itu hancur menjadi remah-remah.

Rindu.
Lima huruf yang menjembatani aku dengan dirimu,
Satu sosok yang kutitipkan pada sang masa lalu

Published. Tiga baris kalimat itu menjadi postinganku yang ke 53 di Tumblr. Iya, aku tengah merindukan ia yang tak bisa dirindukan lagi. Kalau saja masih bisa, ingin rasanya aku datang kepada dia, menampar wajahnya, dan berkata, “Aku tahu ada cinta lain yang membutakanmu saat ini, tapi jika nanti kau sadar dan menyesal, kamu tau di mana aku berada.” Ya, andai saja aku punya keberanian sebesar itu. Ah, tapi sudahlah, mendengarkan lagu The Man Who Can’t Be Movednya The Script saja rasanya sudah cukup mewakili perasaanku.

Kalian tahu apa itu cinta?
Bagiku cinta ialah energi yang membuat satu adalah kurang dan dua adalah sempurna
Sementara baginya, cinta tak ubahnya satu rasa yang membuat dua menjadi kurang dan tiga adalah benar.

Postingan ke 54 sudah terpublish.

“Sejak kapan kamu suka menulis?” suara Indira langsung menarikku ke alam nyata. Duh, aku lupa kalau si bawel ini masih di kamarku. Ketika menoleh ke sebelah kanan, kulihat Indira sudah berdiri berlipat tangan, matanya menatap aku dan layar laptop secara bergantian.

“Cuma galau, nggak penting,” segera kututup layar laptop agar mata Indira tidak lebih banyak membaca tulisan frustasiku.

Indira menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan, sebuah pertanda kalau ada hal besar yang menyesakkan dadanya, “Dinda, mungkin kamu capek mendengarkan nasihatku untuk move on, tapi itu semua aku lakuin karena kamu sahabatku.” Indira menepuk pundakku pelan, “Kamu itu perempuan hebat, ngapain sih meratapi dia terus-terusan? Buka matamu, Nda, dunia masih jauh lebih menarik ketimbang menatap punggungnya pergi menjauh.” Mata sahabatku pun berubah sedih. Mendadak aku disergap rasa bersalah. Benarkah patahan hati ini tidak hanya melukaiku, tapi juga melukai orang-orang terdekatku?

“Aku berusaha kok, Ndi, nggak usah khawatir. Aku cuma butuh waktu untuk menyembuhkan hati, aku pasti akan jatuh cinta lagi kok, tenang saja.” Benarkah? Entahlah, kalimat itu keluar secara spontan dari bibir ini. Kulihat senyum Indira mulai mengembang. Ia pun memelukku hangat.

Apakah memang ini saatnya untuk benar-benar angkat kaki dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi? Sudahkah aku siap membuka hati?

Kepada rintik hujan kutitipkan air mata rindu
Agar rasa sesak ini mengalir jauh pergi
Menujumu
Di sana
Yang barangkali sedang berciuman dengan perempuan berambut sepunggung itu

***

Surabaya, 29 September 2013

Advertisements

One comment

  1. […] baca cerpen Adrian (bagian 1) disini […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: