Cerpen : Adrian (2)

baca cerpen Adrian (bagian 1) disini

Sudah seminggu ini pagiku selalu kacau, boro-boro mau jogging. Mau bangun saja malasnya minta ampun, sampai-sampai mama perlu turun tangan untuk membangunkanku. Mama sempat heran dengan perubahan sikapku ini, tapi rupanya Papa sudah paham.

“Biasa, Ma, anak muda. Paling juga lagi patah hati.” Sungguh sebenarnya aku malu, tapi mau bagaimana lagi, suasana hatiku sedang dirundung pilu.

Pagi itu kampus masih sepi, hanya ada lima motor yang terparkir. Penjaga parkir pun masih tidur dengan nyenyaknya berselimutkan sarung di pos jaga.

“Hei, Rian! gimana tugasmu, udah selesai belum?”

“Udah, tapi cuma seadanya. Lagi males cari referensi nih.”

“Tumben banget kamu males-malesan, itu muka kusut banget pula, belum mandi ya?”

“Sialan kamu, Nit.” jawabku datar, tapi tetap saja Nita tersenyum, lesung pipitnya ditujukan padaku.

Sejam lagi kuliah dimulai. Aku duduk berhadap-hadapan dengan Nita di sebuah bangku taman sambil menyalakan notebook untuk menulis sebaris dua baris puisi pada akun Tumblrku. Ya, galau ini membuatku sedikit puitis..

lingkaran perak berpendar cahaya di jari manis (mu) hilang
kausebut sebabnya jatuh ke dalam lubang
aku bilang tak apa
kau bilang itu pertanda
kutanya pertanda apa
kau diam saja,
kini nyata, kau tak ingin bersama
kini aku tahu, kau karang sendiri pertanda itu

#heartbreak  #moveon

“Rian, ih! Diajak ngobrol malah asik main laptop. Emang lagi ngapain sih?” Nita berpindah posisi duduk di sampingku. Bisa kucium aroma parfumnya, aroma yang sama dengan milik dirinya yang kini telah pergi.

“Eh, nggak apa-apa kok, Nit, lagi posting Tumblr aja.”

Tiba-tiba Nita melongok ke layar notebook lalu meletakkan tangannya di atas mouseku. Lebih tepatnya di atas tanganku yang sedang memegang mouse.

“Ciee, masih galau aja sih. Udah mah, cewek gituan nggak usah dipikirin! Toh dia lebih memilih lelaki itu daripada kamu,” ucapnya sambil tetap menggerakkan mouse. Jari telunjuknya menyingkirkan jari telunjukku, terus discrollInya halaman dashboard Tumblr hingga ke bawah. Sejak tadi bisa kurasakan kulitnya menyentuh kulitku, duh!. Aku diam saja, kupandang tanganku dan tangannya yang menyatu.

“Eh, sorry, baru sadar kalau ada tanganmu,” Nita tersenyum menatapku. Namun lesung pipitnya tak mampu membuatku takluk.

Aku cuma meringis saja.

“Eh lihat tuh, Pak dosen sudah datang!” ucapku cepat sambil menutup notebook dan memasukkannya ke dalam tas. Nita menoleh  sejenak namun tak mendapati sosok yang kusebut debagai Pak dosen. Dengan cepat aku berdiri dari sisinya, meninggalkan Nita yang masih terbengong-bengong.

Sempat terpikir apa dia naksir aku ya? Apa kudeketin aja ya? Mumpung ada yang mau nih. Segera kusingkirkan pikiran buruk itu. Nita memang tak bisa dibilang cantik, tapi dia manis. Semanis lesung pipitnya kala tersenyum, itu saja sudah membuat beberapa kawanku klepek-klepek. Dan satu janjiku pada diri sendiri. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi hanya sekedar untuk pelarian.

Kadang aku bertanya-tanya, mengapa aku terlalu memikirkan dirinya yang sudah tak memikirkanku? Padahal pikiran itu membuat konsentrasi pecah, tanpa terkecuali saat sedang mengikuti kuliah. Bahkan ketika seharusnya aku memperhatikan penjelasan sang dosen, tangan ini justru asik menjelajaho aplikasi Tumblr di ponsel pintarku.

Iseng, aku mencari tagar #moveon di kolom search, sekedar mencari curahan hati orang lain yang senasib denganku. Bingo! Tanpa butuh waktu lama, berhasil kutemukan sebuah puisi bernada pilu.

seseorang baru saja memaksa kekasihku untuk mematahkan satu-satunya hati yang kupunya
patahannya kecil-keci, tajam-tajam, dan terhambur menancap di bilik-bilik jantung ini
sakit
perih

Kubaca nama pemilik akun puisi itu, dindaadinda. Nama yang cantik. Tanpa pikir panjang, segera kubuka laman Tumblr itu dan kutemukan foto dirinya. Tak nampak jelas sebenarnya, foto itu menampakkan perempuan berkaos merah marun yang tersenyum  lebar, menampakkan deretan giginya yang dihiasi behel. Alisnya tipis namun bertaut satu sama lain. Dan lesung pipitnya, amboi! Manis tak ada banding.

Kutekan tombol reblog dan menambahkan beberapa baris kata dibawahnya,

dindaadinda :
seseorang baru saja memaksa kekasihku untuk mematahkan satu-satunya hati yang kupunya
patahannya kecil-keci, tajam-tajam, dan terhambur menancap di bilik-bilik jantung ini
sakit
perih
__________

Kekasih takkan patahkan hati
Sebab hati yang patah takkan bisa utuh kembali
Lantas mengapa, ia masih kau beri gelar kekasih?

Ah, Dinda..

***

Surabaya, 29 September 2013

Advertisements

One comment

  1. […] baca cerpen Adrian (bagian 2) disini […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: