Cerpen : Adrian (3)

baca cerpen Adrian (bagian 2) disini

“Ngapain senyum-senyum sendiri? Gila ya?” Indira bersuara dari balik laptopnya.

“Apaan sih?” segera kuubah mimik wajah jadi senetral mungkin. Yaelah, si bawel ini ngeliat aja sih aku senyum-senyum sendiri, kirain serius bikin resume daritadi.

“Udah beberapa hari ini tingkah kamu makin deh. Kerjaannya nempelin laptop sambil senyum sendiri melulu. Kalau sakit tuh bilang, Nda. Aku mau kok nganterin kamu berobat ke rumah sakit jiwa, tapi sampai parkirannya doang.” Dih. Aku hanya manyun cemberut. “Jadi siapa?” lanjut Indira.

“Siapa apanya?” aku segera menutup browser dan sok sibuk membaca paper di laptopku

“Udah laaah, aku kenal kamu bukan dari kemarin sore. Segala raut mukamu itu sudah kuhapal. Kamu diam sambil mikir dengan diam karena ngelamun aja aku tahu bedanya, apalagi senyum-senyum sendiri begitu. Ngaku aja lah, siapa pelakunya?”

“Pelaku apa sih? Emang ada apa?” aku masih ngeles. Sekali-kali punya rahasia dari Indira, boleh dong! Apalagi kalau rahasianya menyenangkan.

“Pelaku pencurian raut gloomy dan darkmu beberapa bulan lalu, Nda. Atau barangkali, siapa sebenarnya nama pencuri hatimu yang baru? Ganteng nggak? Anak mana? Tingginya seberapa?”

“Nggak tau.” Kulihat kening Indira berkerut. “Iya, aku nggak tau siapa dia sebenarnya, bentuk mukanya, asalnya dari mana, apalagi tinggi badannya. Aku cuma suka dia lewat kata-katanya di Tumblr.”

“Wah, beneran mesti ke RSJ nih kamu, Nda. Hellooooww, ini sudah 2013 dan kamu masih aja naksir orang lewat dunia maya? Nggak sekalian main walkie talkie?” wait, what? Walkie talkie? Main kaleng disambungin benang aja sekalian deh!

“Tapi dari kata-kata puitisnya, kayaknya sih boleh juga. Tipe-tipe ganteng nan romantis, gituu..” jawabku malu-malu.

“Yaelah, Nda, jangan percaya sama orang yang bisanya main kata-kata doang, deh! Kamu mau, tiap hari dapatnya cuma rayuan gombal? Aku sih ogah, realistis aja lah!”

Realistis aja. Benar sih apa yang dikatakan Indira. Siapa coba yang mau tiap hari dicekokin kata-kata manis tanpa bukti? Kutu buku aja bisa mabok kalau tiap hari bacanya puisi melulu, apalagi aku yang cuma tanpa sengaja suka bersahutan puisi dengan laki-laki asing di Tumblr itu.

Jujur, pada awalnya aku bete banget setiap kali notifikasi di Tumblr muncul dan username orang itu lagi yang muncul. Adrian Wibisono reblogged your post. Blah, dia lagi dia lagi, plus kata-kata puitisnya yang iyuh dan sok. Apaan deh. Memangnya akun Tumblr yang dia follow cuma punyaku ya? Kok rasanya hampir setiap kali aku ngepost kalimat puitis, dia melulu yang nyamber. Selo banget sih hidupnya.

dindaadinda :
seseorang baru saja memaksa kekasihku untuk mematahkan satu-satunya hati yang kupunya
patahannya kecil-keci, tajam-tajam, dan terhambur menancap di bilik-bilik jantung ini
sakit
perih

Kekasih takkan patahkan hati
Sebab hati yang patah takkan bisa utuh kembali
Lantas mengapa, ia masih kau beri gelar kekasih?

Sebelah alisku naik karena membaca sahutan puisinya kala itu. Lantas mengapa ia masih kau beri gelar kekasih? Ya suka-suka aku, dong! Kan aku masih sayang, kan aku belum bisa move on, kan aku masih suka nangis diam-diam menyesali yang dulu-dulu, jadi kenapa harus dia yang repot dengan kata “kekasih?” Idih!

Bukan cuma sekali dua kali notifikasi Tumblrku makin ramai diisi oleh namanya. Padahal aku tidak pernah memberitahu URL Tumblrku ke siapapun kecuali Indira. Tapi anehnya, lelaki yang bernama Adrian Wibisono ini toh tetap menemukan aku.

Suatu hari aku pernah iseng balik membaca laman Tumblrnya. Tidak lebih dari rasa penasaran bercampur kesal, sebenarnya. Dan hanya di halaman pertama saja, aku sudah menemukan tagar #heartbreak dan #moveon hampir di setiap postnya. Hmm, pejuang move on juga kah?

rianwibisono :
kini akan kulepaskan kenangan
dengan cara memaafkan
namun
sejuta maaf tak lantas mengapus sejuta kenangan, kan?
beberapa bagian memang mestinya diikhlaskan

#heartbreak #moveon
__________

serupa bayangan, kenangan takkan pernah bisa kau lepaskan
pun ia seperti hantu yang siap menampakkan diri dan menghilang kapan saja dalam pikiran
maka apalagi yg bisa kita lakukan selain mengajaknya berdamai lalu berteman?

Duh, kenapa aku jadi sok menggurui perihal kenangan? Ah, masa bodo. Toh aku hanya berbagi rasa, tidak lebih. Dia kan hanya butuh sebuah tong sampah di Tumblr sini, dan kebetulan aku lewat, jadi kenapa tidak membantunya memilah mana sampah yang mesti dibuang dan mana yang bisa didaur ulang? Membantu, itu saja, tidak lebih. Lagipula sebelumnya dia sudah “menemani”ku belajar memilah sampah, meskipun dengan cara menjengkelkan, yaitu muncul, sok kenal, dan sok puitis semaunya. Aku menghargainya kok, setidaknya aku merasa punya telinga lain selain milik Indira.

Sejak saat itu aku merasa berhutang budi. Si Adrian ini makin sering menyahuti puisiku, jadi aku pun harus sering membalas kebaikannya. Tapi sialnya, kegiatan ini membuat ketagihan. Kadang aku senang melihat kata-katanya sliweran di dashboard (yang segera ku-reblog), bahkan belakangan ini dia sudah mulai memasuki pikiranku, membuatku iseng menebak-nebak bait puisi apa yang akan dituliskannya hari ini serta menebak apa sebenarnya isi hatinya. Berusaha menebak siapa perempuan yang bisa membuat Adrian jadi sepuitis ini, menebak relationship seperti apa yang membuatnya jadi senasib denganku, serta menebak kepribadiannya pun aku sudah pernah. Kau tahu kan bagaimana rasa penasaran itu? Karena aku sendiri bingung, ini hanya penasaran atau sudah menjadi rindu.

“Memangnya kalian sudah berinteraksi sejauh mana?” Indira melanjutkan interogasinya.

“Sampai tahap like dan reblog post. Sebatas sahut-sahutan puisi. Itu saja.”

“Itu saja? Kalau cuma itu, kayaknya nggak bakal sampai senyum-senyum kayak orang sinting deh.”

“Kata-katanya bagus. Aku suka. Kayaknya sih dia baru putus dari pacarnya dan butuh teman sharing yang senasib dan kebetulan aku juga merasakan hal yang sama, jadi apa yang salah?” Indira masih menatapku tajam dan aku semakin salah tingkah.

“Apa URL Tumblr si cowok puitis itu? Aku perlu membacanya.” Perlu. Aku perlu membacanya. Sungguh posesif sekali sahabatku yang satu ini. Maka dengan pasrah aku menyebutkan URL Tumblr Adrian yang sudah kuhapal sejak lama, hasil dari stalk rutin hampir setiap hari.

Tuhan maha tahu
Ia ciptakan kamu
yang tiap lesung pipitmu
manisnya menghunjam dalam ruang diriku
bernama kenangan

“Kemarin aku baru saja menyahuti puisi ini,” mata Indira mengikuti telunjukku yang mengarah ke barisan puisi tersebut, “kubilang, ‘Jangan pernah salahkan Tuhan, Tuan. Sebab Dia tau pasti senyum manis mana yang akan jadi milikmu selamanya. Milikmu seorang.’” Aku bahkan masih mengingat jelas puisi pendek itu.

“Gaya banget deh kamu, Nda, baru juga berhasil move on kemarin sore, sudah sok menggurui orang lain,” komentarnya sambil terus menscroll down laman Tumblr Adrian. “Kalian menikmati satu sama lain, ya? Aku bisa lihat kalau kalian nyambung karena senasib sepenanggungan,” tebak Indira. Aku hanya tersenyum. Iya, kami sama-sama dikecewakan, sama-sama merasa terbuang, dan sama-sama sok puitis.

“Nama dia bagus ya, Adrian Wibisono. Kayaknya ganteng priayi khas cowok jawa gitu. tapi kok dia nggak pasang foto sih? Gak asik banget, aku kan penasaran!” protes Indira. “Eh, tapi kalau dia sebenernya jelek, gimana? Kalau ternyata mata dia satu, jari tangannya ada sebelas, atau lubang hidungnya tiga, gimana?”

“Ndi, please deh, dia bukan monster! Kamu kebanyakan nonton film tuh. Aku jamin dia normal, otaknya aja bagus kok. Aku sih ngarepnya dia ganteng priayi khas cowo jawa yang tipe-tipenya mirip Fedi Nuril gitu deh hahaha. Ya sudah lah, mungkin dia memang pemalu. Tapi biasanya yang pemalu gitu sebenarnya romantis dan manis sih,” jawabku sambil senyum-senyum lagi.

“Kamu makin norak deh, Nda.”

“Yee, mending norak karena jatuh cinta ketimbang gloomy dan dark karena susah move on!” Ish! Ternyata aku memang jadi norak-norak bahagia karena sosok misterius yang hidup lewat kata-kata.

Baru kutahu, ternyata asa bisa lahir dari rajutan kata-kata
Lalu bisakah tunas cinta juga tumbuh darinya?

Beberapa menit lalu kubuka kembali browser di laptop dan kini post ke 93 di Tumblrku baru saja terpublished.

***

Surabaya, 29 September 2013

Advertisements

One comment

  1. […] baca cerpen Adrian (bagian 3) disini […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: