Cerpen : Adrian (4)

baca cerpen Adrian (bagian 3) disini

Enam bulan sudah hatiku patah, kepingnya berserakan, dan mungkin takkan dapat disatukan. Rasa sakitnya bahkan pernah membuatku jera untuk jatuh cinta lagi. Namun beberapa minggu belakangan ada rasa yang berbeda. Sekarang aku sudah bisa menertawakan kebodohan masa lalu,  kala malam-malam sunyi kerap kuisi dengan menangisi dia yang meninggalkanku. Senyum kini mulai terkembang kembali, wajah kembali berseri. Jujur kuakui, salah satunya karena kembali kurasakan rindu. Tapi ini rindu bukan sembarang rindu, rindu pada dia yang tak pernah bertemu dindaadinda, Adinda Prameswari.

Waktu luangku kini lebih banyak kuhabiskan mengecek dashboard Tumblr serta rajin merefreshnya,barangkali ada postingan Dinda yang terbaru. Membaca puisinya membuat aku seolah bisa ikut menyelami kedalaman deritanya, ikut menikmati sakit yang teramat sangat. Ditinggalkan seseorang yang pernah kau sebut kekasih, demi mengejar orang lain, an affair, begitu istilah populernya.

Aku selalu tak sabar membalas puisi-puisi itu meski belum mengenalnya, sebab tiiap kali membacanya aku seperti mendapatkan teman seperjuangan untuk move on. Asik kali ya kalau bisa move on bareng? Ah, pikiranku mulai melantur kemana-mana.

“Kuliah hari ini cukup sampai di sini. Ingat, tugas kuliah dikirim ke e-mail saya paling lambat hari Jumat pukul 23:59,” kalimat pak dosen itu selalu berhasil membuatku lega.

Selesai kuliah, aku memilih pergi ke perpustakaan. Bukan, aku bukan hendak meminjam buku dan tenggelam dalam kalimat-kalimat membosankan, melainkan menikmati wi-fi gratis dengan suasana sekitar yang tidak berisik. Aku hanya ingin ketenangan.

Kumasuki ruang baca perpustakaan dengan menjinjing notebook. Kuedarkan pandangan ke sekitar mencari bangku yang belum diduduki. Dan mataku menangkap sosok perempuan berkemeja pink dengan rambut tergerai sebahu, kepalanya manggut-manggut menggunakan headset, tampak asik dengan layar notebooknya sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba jantungku seperti ikut berhenti berdetak karena ikut menyaksikan kecantikan perempuan itu.

Aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya, kunyalakan notebook dan membuka akun Tumblrku seperti biasa. Diam-diam aku mencuri pandang ke arahnya. Sedang membuka Tumblr juga ia rupanya. Kali ini ia menangkap basah lirikan mataku. Mata kami beradu, aku tercekat.

“Lagi buka Tumblr juga ya?” tanyaku sekenanya.

“Iya mas,” ia pun melempar senyum manisnya kepadaku. Duh!

Aku melongok ke layar notebooknya dan terbaca olehku nama akun pada dashboard Tumblr nya. dindaadinda. Mulutku melongo, Tiba-tiba saja tanganku dingin dan lututku lemas. Hampir tak percaya kalau perempuan di sebelahku ini adalah Dinda Prameswari. Perempuan yang puisi-puisi galaunya tiap hari menghiasi dashboard Tumblrku.

“Adinda Prameswari?”

“Kok bisa tahu namaku?” ia pun menatapku lekat. Kini keningnya berkerut, mimiknya menggambarkan heran dan bingung.

Kepada rintik hujan kutitipkan air mata rindu, agar rasa sesak ini mengalir jauh pergi. Hai, aku Adrian Wibisono,”  kuucapkan sebaris puisi Dinda yang paling kuhapal sambil memperkenalkan diri. Ia masih menatapku heran, rupanya masih belum paham dengan ucapanku. “Aku ini Adrian Wibisono, yang sering balas puisimu di Tumblr itu lho.”

“Ooh.. Adrian yang usernamenya rianwibisono itu kan? Iya, aku Adinda Prameswari.” Ia pun menyodorkan tangan kanannya, kami bersalaman, dan sentuhan kulitnya dengan kulitku berhasil menciptakan sebuah percikan aneh di dadaku.

“Iya, benar! Wah, nggak nyangka ya kalau ternyata kita sekampus dan bertemu di sini. Oia, sendirian aja nih?” kulirik bangku sebelahnya, nampak dua tas ransel diletakkan di sana. Aku tahu ia tak sendirian, karena pertanyaanku memang hanya basa-basi saja.

“Waw, aku juga nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, ternyata dunia sempit yaa..” matanya berbinar dan pipinya bersemu merah, amboi manisnya. “Oiya, aku nggak sendirian kok, berdua sebenarnya, tapi temanku lagi keluar sebentar,” tambahnya lagi.

Belum juga lima menit aku menikmati senyumnya, tiba-tiba ponselku bergetar, kubaca nama pengirim pesan, Prof. Joko Lianto. Duh!. Rian, bisa ke ruangan saya sekarang? Saya ingin tahu progress tugas akhir kamu. Segera ya, karena jam 13:30 saya ada rapat di rektorat. Kulihat jam tangan, ternyata aku hanya punya waktu satu jam untuk konsultasi sebelum baliau rapat. Segera kukemasi barang-barangku dan berpamitan pada Dinda. Duh, padahal aku masih ingin berlama-lama dengannya.

“Din, aku cabut dulu ya, ada panggilan mendadak dari pak prof nih. Biasa, konsultasi tugas akhir.” Dan belum sempat ia menjawab, aku sudah berjalan cepat beranjak dari kursi, mempercepat langkah, dan tepat ketika aku menarik pintu ruangan dengan terburu-buru, sebuah tubuh menabrakku dari arah berlawanan.

BRUK!

Seorang perempuan jatuh terduduk di depanku. Tampaknya ia juga buru-buru hingga tak sadar ketika ia mendorong pintu masuk, aku juga menariknya dengan cepat. Buku-buku yang tadi ada dipelukannya pun jatuh berserakan di dekat kakiku. Ia mendongakkan kepala dan menatap ke arahku, tatapannya tajam menusuk sambil mendengus kesal. Anehnya, tatapan tak bersahabat itu justru membuatku semakin ingin menatap lama mata mungil dari balik kacamata itu. Satu detik, dua detik, tiga detik. Ya, tepat di detik ketiga itulah aku terkena racunnya. Tubuhku seperti disengat perasaan aneh. Perlahan bunga-bunga mulai tumbuh, menjalar, dan bermekaran di hatiku, pun kupu-kupu warna warni ikut terbang di atasnya. Astaga, belum juga sepuluh menit aku mengagumi Dinda, sudah ada lagi perempuan yang menggetarkan hatiku.

“Hei, maaf aku nggak lihat kalau ada kamu,” aku segera menyadarkan diri karena waktu untuk bertemu pak prof makin sempit. Aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tapi tanganku ditepisnya.

“Makanya, kalau buka pintu itu diliat dulu dong! Sakit, tau!” keluhnya kesal. Tiba-tiba Dinda datang, membereskan buku-buku yang berserakan sekaligus membantu perempuan itu berdiri.

Oh, temannya Dinda toh, bisa lah kalau kapan-kapan aku minta dikenalkan padanya, ucapku dalam hati. “Duh, maaf ya, aku lagi buru-buru nih. Dinda, terima kasih ya sudah membantu. Sekali lagi, maaf ya.” Segera kutinggalkan dua perempuan cantik itu dengan rasa penasaran yang besar demi janji dengan pak prof. Sambil berjalan cepat, aku berjanji untuk mencaritahu siapa mereka berdua sebenarnya.

***

Surabaya, 29 September 2013

Advertisements

One comment

  1. […] baca cerpen Adrian (bagian 4) disini […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: