Puisi : Kipas Angin

oleh : Izzul Putra

Sunyi adalah kawan dalam matiku
Debu dan udara kawan dalam hidupku
Tuan, kau hidup dan matikan aku sesukamu
Tuan, engkaukah Tuhan?

Kuturunkan salju
Pada pengap apak ruanganmu
Gigil, dingin mengantarmu pada kematian
Tuan, apakah aku Tuhan bagimu?

Sejak kematianmu
Dunia menjadi gelap
Ataukah aku yang menjemput ajalku?

Surabaya, 25 November 2013

 

Maksud dari puisi

Tuan, tahukah kau siapa kipas angin? Ialah yang setia dalam sunyi di sudut kamarmu. Seringkali kau hidup dan matikan ia sesukamu. Apakah kehendak dan kuasamu itu menjadikanmu Tuhan baginya? Dimana ia harus (beribadah) menyejukkan ruangan serta suhu tubuhmu yang mulai meninggi karena hujan yang tak kunjung tiba? Lantas kau bisa seenaknya tak pedulikan perasaannya. Apakah ia sedang sakit gigi? Perutnya lapar? Ataukah justru ia sendiri yang gerah karena hujan yang tak kunjung tiba? Lalu tiba-tiba ketika kau tak lagi membutuhkannya kau matikan ia, tak pedulikan mungkin ia sedang menikmati dirinya berdansa diantara udara dan debu yang saling membaur di sekitarnya.

Dalam ibadahnya itu, ia mampu menyejukkanmu, bahkan tak jarang membuatmu menggigil. Lantas kau pun terlelap dalam kamar gelap, pengap. Ia menganggapmu mati, Tuan. Jika sudah begitu, ia mempertanyakan kembali apakah dirinya juga Tuhan yang mampu mematikanmu, Tuan?

Lantas pada suatu pagi dalam ibadahnya ia terlelap, kau bangkit dari tidurmu. Lalu dengan kehendakmu kau matikan ia, Tuan. Ia menjemput ajalnya. Untuk sementara.

Teknik yang digunakan?

Saat mengikuti pelatihan olah mas Fauzi Ballah, saya mengangguk-angguk takzim waktu ia menjelaskan teori dan segala macamnya. Namun, sesampainya di rumah semua tinggal kenangan (ampuni saya ya Allah). Pada akhirnya  saya mencoba sebisanya, membuat puisi simbolik.

Tatkala sedang tidur, lantas saya terbangun kegerahan. Rupanya kipas angin belum saya nyalakan. Lalu saya bayangkan bagaimana rasanya jadi kipas angin yang hidup sendiri dalam sunyi, si empunya kipas dengan semaunya menghidup dan matikan  kipas angin. Betapa tersiksanya menjadi kipas, bekerja tanpa ada hak jawab.

Tuan, kau hidup dan matikan aku sesukamu
Tuan, engkaukah Tuhan?

…….

Gigil, dingin mengantarmu pada kematian
Tuan, apakah aku Tuhan bagimu?

“Aku” dalam puisi mewakili kipas angin, sedangkan “Tuan” mewakili pemilik kipas angin. “Kematian” bagi sang “aku” melambangkan kondisi kipas angin yang sedang off. Sedangkan “kematian” bagi sang “tuan” melambangkan ia sedang tidur. Namun tahu apa kipas angin tentang tidur? Yang ia tahu ketika sedang mati ia tak memiliki kesadaran sedikitpun walau sekedar untuk bangun lalu mengucek mata.

Kuturunkan salju
Pada pengap apak ruanganmu

Menunjukkan sang “aku” sedang menjalankan fungsinya sebagai penyejuk ruangan tuannya yang pengap dan berbau apak. Angin yang dihasilkan oleh kipas dilambangkan dengan “salju”.

* puisi dan penjelasannya ini merupakan bagian dari tugas pasca pelatihan "Menulis Puisi" dalam rangkaian proses recruitment anggota Forum Lingkar Pena Surabaya 2013
Advertisements

2 comments

  1. sepintas di baca agak seram “atau aku yg menjemput ajalku”. tapi kalo dipahami lebih dalam kerasa kesepian si kipas angin.

    ps: nice poetry!

    Like

    1. dia menjemput ajalnya karena sang Tuan mematikan dirinya. kipas angin selalu kesepian, dia tak punya kawan, karena umumnya hanya terdapat satu pada tiap ruangan.
      makasih sudah mengapresiasi yum. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: