Kepulangan Bang Toyib – bagian 1

oleh Winona Rianur dan Izzul Putra

1. yeti-love-night-tree

Malam mulai larut ketika kakiku menjejak tanah kampung kita, kampung di mana aku dan kamu tinggal. Fitiya, sebelas purnama sudah aku meninggalkanmu, juga si Buyung anak kita. Selama itu pulalah aku hanya sekali berkabar padamu. Teringat kala berpamitan denganmu di ujung kampung sebelum melepas kepergianku.

“Abang merantau kemanakah? Berapa lama aku harus melewati malam tanpa cakap ringan kita di selasar rumah?”

“Tak ‘kan lama Fitiya, tak eloklah kau takut sebelum menjalaninya. Abang akan baik-baik saja di pulau seberang,” kugamit tangan istriku dan kulihat tangis ketika kecup ini menyentuh keningnya.

“Lekaslah pulang jika tabungan telah cukup, Bang,” tangan kami makin rapat tak ingin saling terlepas.

Berat langkah kaki tinggalkan keluarga yang sudah kubina dua tahun lamanya. Tak sampai sepuluh langkah, aku menoleh ke belakang dan mencoba tersenyum. Masih tampak tangis di wajahnya, namun aku tetap pergi, tinggalkan istri dan anak di kampung sendiri.

***

Senyap, dingin menusuk kulit, gemerisik daun, pohon kelapa berderet tertimpa cahaya rembulan menyisakan bayangan serupa barisan serdadu tua. Kulihat satu-dua tiang lampu penerang jalan berkarat. Gemericik aliran sungai menimpa bebatuan.

Sekejap kudengar suara gagak, lalu hilang. Kudengar kembali, kali ini asal suara menjauh, tapi menghilang lagi. Kata para tetua, bila kau dengar suara gagak di malam gelap, suatu yang tak baik akan menimpamu.

Kulirik jam tangan, pukul sembilan lewat empat menit. Tinggal puluhan langkah lagi aku kan sampai di rumah. Nampaklah bayang-bayang Fitiya makin dekat, mendekap kerinduan yang meluap. Langkah kupercepat, memburu waktu yang telah lewat.

Aku terpana, siluet bayangan Fitiya tertimpa cahaya rembulan. Di bawah pohon rambutan ia berdiri seorang diri. Kukenali betul lekuk tubuh itu, pula rambutnya yang menjuntai sepinggang tak pernah digelungnya barang sekalipun. Tapi ketika sudah berjarak sepuluh kaki darinya, sebuah hal ganjil menyeruak. Gelap, nampak sepasang bayangan tangan muncul dari balik pohon, menggamit tangan Fitiya.

Fitiya menunduk, seakan bingung, bayangan makin mendekat merapat. Mataku menjadi gelap, panas menyeruak dalam darah. Lari menuju mereka, kuambil sebatang ranting kayu serupa separuh tongkat. Satu ayunan telah siap, kuarahkan tepat pada muka bayangan itu, namun tak sampai jarak sehasta, kacau sudah semuanya. Fitiya terperanjat, berteriak serupa suara gagak, bayangan itu lekas beranjak, lari meninggalkan emosiku yang kian menanjak.

Hening. Emosi masihlah meluap, tiada kata terucap. Luka yang penuh duka. Perih terus menindih.

***

sumber gambar : layoutsparks.com
Advertisements

One comment

  1. […] baca sebelumnya : kepulangan bang toyib – bagian 1 […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: