Kepulangan Bang Toyib – bagian 2

2. TragicStoryHappyEnding2

baca sebelumnya : kepulangan bang toyib – bagian 1

Bang, mengapa kau kembali meninggalkan aku dan si Buyung? Kau salah paham, aku tak berniat meneguk racun yang ditawarkan Hamzah. Malam itu ia berkata telah melihat orang serupa dirimu, lalu diajaklah aku keluar. Tak kusangka, di bawah pohon itu ia serupa setan iblis namun bermuka muallim. Maka semenjak malam itu, hidupku makin gelap, malam-malamku  tak pernah lelap.

***

Empat tahun aku menunggumu, Bang. Menjalani siang dan malamku dengan hiasan cibiran tetangga. Mereka menyebutku perempuan sinting karena setia menunggu laki-laki tak tahu diri, ayah tak bertanggung jawab, dan suami pengkhianat. Namun aku tetap gentar karena yakin kau akan segera pulang, lengkap dengan setangkup kebahagian dan berbagai kisah dari tanah perantauan.

“Menikahlah lagi,” ujar lelaki umur tiga puluhan itu, “Tidakkah kau muak dengan kelakuannya? Tak jua ia mengirim kabar ke telingamu, Fitiya. Adakah kawan kerjanya yang pulang membawa titipan surat darinya? Tidak, kan? Apalagi yang hendak kau tunggu?” Ini sudah kesekian kalinya ia merayuku, memintaku melupakanmu, dan menikah dengannya.

Sementara jawabanku tak akan pernah berubah, kepala ini tetap menggeleng.

“Dasar perempuan kelas kepala kau, Fitiya! Lihat saja nanti, penantianmu tidak akan berbuah apapun! Kesendirian akan melumatmu habis!” ucapan Hamzah mengiris telingaku. Sakit rasanya hati ini mendengarnya, Bang. Benarkah doa-doa kerinduan yang kupanjatkan tiap malam tidak akan pernah membawamu kembali?

Tidak, doa itu terjawab.

Aku melihatmu pulang ke kampung malam itu. Kala bulan menyinari tubuhku dan Hamzah di bawah pohon rambutan itu. Ketika tanganku berada dalam genggamannya. Saat itulah kau datang, lengkap dengan kepala mendidih dan hati yang sudah mejadi abu.

Bahagianya aku melihat rupamu lagi, Bang. Segera kutinggalkan Hamzah beserta rayuan busuknya demi mengejarmu, lelaki yang wujudnya selalu ditanyakan si Buyung. Namun kilatan matamu sudah menandakan amarah. Tatapan mata itu, Bang, berhasil menghunus jantungku yang selalu berdegup menghitung pengharapan.

Ingin sekali kudekap tubuhmu erat. Jangan pergi lagi. tinggallah di sini bersamaku dan si Buyung. Namun semakin kukejar, punggungmu kian mengecil dari penglihatanku. Malam itu, harapanku harus mengerut jadi sekecil biji semangka lagi.

Kembalilah, Bang, tak sanggup aku melewati purnama lain tanpamu.

***

sumber gambar : showcase.awn.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: