Kepulangan Bang Toyib – bagian 3

3. Libya_Tripoli_0030-1 - edit

Langit ikut berkabung di hari ke dua puluh enam bulan Sya’ban tahun ini, air matanya deras menghujani kampung. Seorang mayat laki-laki telah dikuburkan, warga kampung baru saja pulang dengan bisik-bisik yang mengganggu, dan kini tinggal Fitiya yang menangis sejadi-jadinya di sebelah makan suaminya. Tertulis jelas nama Ahmad Toyib bin Rahmat Saleh di batu nisan itu.

“Bagaimana rasanya berada di bawah sana, Bang? Gelap? Pengap? Tak bisakah aku ikut menemanimu di dalam sana?” Fitiya menyentuh kembang yang bertaburan di atas tanah kubur, “Dulu kau bilang ingin terus hidup bersamaku dan berjanji akan mati di hari yang sama, lalu mengapa kau justru pergi mendahuluiku, Bang? Dasar pengkhianat! Ternyata kau tak benar-benar mencintaiku! Kau pamit merantai ke pulau seberang, tapi tak jua memberi kabar. Kau melihat kesalahanpahaman dan tak sekalipun mendengar penjelasanku. Bang, kenapa harus seperti ini akhirnya? Kujaga cinta ini agar tidak jatuh ke lelaki lain, tapi kau mendiamkannya hingga berkarat dan mati rasa.” Mendengar kekecewaan Fitiya, hujan semakin deras membasahi tubuh kurusnya.

Seorang anak menarik-narik baju hitamnya, “Ibu, mengapa kau menangis?“ Fitiya pun memeluk Buyung, anak satu-satunya yang belum sempat mengenal ayahnya.

“Pulanglah Fitiya, kasihan Buyung.” Laki-laki perayu itu datang lagi sambil memberikan payung untuknya “Jangan sampai air mata menenggelamkan hidupmu. Kan sudah kubilang, ia tak akan pernah pulang.”

“Ia meninggal karena kapal laut yang ditumpanginya dalam perjalanan kemari tenggelam, Hamzah! Ia akan menemuiku dan Buyung!” dada Fitiya naik turun karena emosi. ”Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Dia lebih ingin suamiku pulang ke pangkuan-Nya.” Fitiya menghapus air mata dan menolak payung itu. “Pergilah, Hamzah, berhenti mengganggu kami.”

Fitiya merangkul Buyung lebih erat dan membawanya melangkah pergi dari makam ayahnya.

*

Bang, jika kau tak mampu memenuhi janji kita untuk mati di hari yang sama, maka izinkan aku untuk menepatinya. Aku ingin berada di sampingmu setelah sekian lama terpisah. Tunggu aku, Bang.

 

Surabaya, Juli 2013

————————–

sumber gambar : benlowy.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: