Catatan Harian Seorang Ianfu

Disini saya membacakan tulisan “Catatan Harian Seorang Ianfu” yang diambil dari buku LSM Sariawan karya E. Sinansari Encip .  Saya mencoba membacanya disertai beberapa backsound.  Pada kisah ini yang bercerita adalah seorang perempuan bernama Juminten, namun karena yang membacakannya laki-laki (saya), kemungkinan tidak  cocok di telinga pendengar. Tapi tak apalah.

———-

Catatan Harian Seorang Ianfu

oleh : E. Sinansari Encip

Namanya Juminten. Anak bungsu. Kakaknya tiga, laki-laki semua, seorang pangreh praja, seorang maling, seorang masuk Peta. Yang pangreh praja jadi juru tulis di kantor asisten wedono, dipanggil “Den Juru”. Yang maling, ini barangkali kecelakaan, dibuang ke Nusakambangan. Kangmasnya langsung, berjiwa tentara, terpanggil menjadi Pembela Tanah Air. Ia bergabung dengan batalyon Peta Blitar.

Inilah petikan catatan hariannya.

Selasa

Kangmasku yang kepalanya gundul itu datang ke rumah. Kentongan malam sudah dipukul 10 kali. Dia tiba-tiba sungkem ke pangkuan ayah. Lalu menangis di pangkuan ibu. bahunya terguncang-guncang. Ibu mengelus-elus kepalanya beberapa kali. Dia tidak berkata-kata. Lalu dia mencium pipiku. Lalu dia meninggalkan rumah. Dia tidak berkata-kata. Dada saya berdesir.

Rabu

Kami dengar, semalam sebagan besar anggota Peta Blitar meninggalkan markas dipimpin Supriyadi. Mengenali wataknya, kami menduga keras kangmasku ikut mereka. Ayah yang sudah sepuh menganjurkan kami salat tahajud. Dalam sujud akhirku, saya menangis sesenggukan. Saya mohon kangmasku selalu dalam lindunganNya.

Kamis Pagi

Seorang opsir Jepang yang kasar datang ke rumah. Dia membentak bakero-bakero kepada ayah dan ibu. Ayah dijerembabkan ke sudut ruang tamu. Lalu diangkatnya dan didorongnya lagi. Kali ini kepala ayah membentur daun meja marmer. Saya terpekik. Ibu memukul dada Jepang tersebut dengan kepalan tangannya yang lemah. Saya diseret opsir itu keluar rumah. Saya hanya sempat menyambar mukena dan sajadah.

Kamis malam

Kamar tidur opsir ini bersih. Saya dikurung di dalamnya sejak pagi.Sekantong biskuit masih utuh di atas meja. Segelas air putih tidak saya sentuh. Kantong biskuit itu dari kain kasa. Isinya biskuit tawar bercampur gula-gula warna-warni. Inilah makanan pokok tentara Jepang di dalam perang.

Opsir itu masuk kamar, telanjang dada dan hanya bercawat putih tua seperti pegulat sumo. Saya tekesiap dan surut ke sudut kamar. “Haaa, bagusnaa,” ujarnya. Dari mulutnya yang tinggal beberapa jengkal terbaui udara sake minuman keras mereka. “Duh Gusti” saya mengaduh kepada usti Allah, “hindarkan saya dari terkamannya.”

Kamis malam beberapa bulan kemudian

Saya melakukannya sebagai penderita. Saya tidak berdaya membuat perlawanan. Tapi, secara sembunyi-sembunyi saya masih salat. Saya tidak tahu apakah itu akan mengurangi dosa saya. Saya mendengar dari prajurit Jepang rendahan yang baru meniduriku, kangmasku diadili di Jakarta dan dihukum mati. Dia dikuburkan di Ancol. Saya lalu pingsan.

Jumat Pagi

Udara Subuh menyentuh wajahku. Saya tebangun. Tubuhku terasa lungkrah. Dengan malas saya bersandar dinding. Saya teringat malam pertamaku. Si Opsir bilang, “Sodaramu boreh bebas tapi kamu tidur saya sama nee.” Dini hari itu darah gadisku meleleh di sudut sajadah.

***

Namaku Juminten (bukan nama sebenarnya). Umurku kini lebih 60 tahun. Rambutku putih. Tulang-tulangku menonjol. Gigiku tinggal dua, hitam pula. Ayah ibuku entah ke mana. Dua kakakku yang lain entah di mana. Harga diriku juga entah di mana. Tapi, sungguh, saya bahagia dan bangga memiliki Indonesia.

Republika, 1 Agustus 1995

———-

sumber gambar : confusereview.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: