Dekade

Beragam cara bisa dilakukan untuk merekam momen – momen tertentu agar tidak mudah dilupakan. Dan tulisan – tulisan ini adalah cara kami mengabadikan sedikit dari sekian banyak momen berharga bersama kalian selama 10 tahun terakhir.

Selamat 10 tahun, Lasso.

Selamat bernostalgia 🙂

***

“Halo Ben! Fuiiik! Assalamualaikum, Saudara!”

“Walaikumsalam bang Tahul. Kok gak lemu-lemu awakmu. Piye, kapan rek undangane?” tanyaku.

“Iyo, Hul! Kapan? Cek aku iso ngajukno cuti, khusus demi acaramu.” sambung Beni.

“Haha, isok ae arek-arek iki. Insya Allah akhir Agustus. Sek-sek engko lek arek-arek ngumpul tak umumno. Bukone sek sejam maneh kan?” ucap Tahul berkelakar.

Endi arek-arek liyane iki? Tuan rumahe kok gak muncul?” imbuhnya lagi.

Wah embuh yo, sek kenek macet nang dalan be’e. Trixi lagi ndek mburi iku nyiapno jajan.”

Sambil menunggu teman-teman yang masih belum tiba, kami ngobrol ngalur-ngidul menanyakan kabar masing-masing setelah beberapa bulan lamanya tak bertemu.

“Hai Intaan!” kulambaikan tanganku ke arah perempuan berkerudung biru yang terlihat celingak-celinguk di depan pagar rumah.

“Fikaar, Tahuuul, Beniii, mana yang lain?” sambil bertanya ia menyalami kami satu persatu.

Aku tersenyum sumringah. Kupejamkan mata sejenak untuk merasakan momen yang tak datang setiap hari ini. Ya, hal-hal seperti ini lumrah terjadi dikala kita merasa kebahagiaan datang dari hal yang sederhana. Bertemu teman lama misalnya.

***

Tahukah kamu? Kami adalah berpuluh anak manusia yang bertemu sepuluh tahun lalu ketika menempuh pendidikan di SMAN 5 Surabaya. Tiga tahun dalam kelas yang sama, siapa sangka pada akhirnya kami layaknya saudara? 🙂

Awal perkenalan kami sudah direkatkan dengan bermacam kegiatan berlabel Masa Orientasi Siswa (MOS). Bangun pagi, pulang malam, tugas bejibun, bekal makanan yang diatur menunya, dan masih banyak lainnya.

O, jangan salah. MOS sekolah kami anti-mainstream, kalau di sekolah lain menggunakan atribut-atribut nggilani seperti topi berumbai, tas dari kardus, nametag warna-warni. Bukan, MOS kami jauh dari itu. Kami diharuskan berkemeja putih, bawahan hitam, sepatu fantovel, rambut dicukur rapi. Menghafal lagu-lagu aneh dalam waktu sekejap, namun hingga sekarang masih ngelontok di pikiran.

Plip plup plup plip plap plip plap plup.
Plip plup plip plup plap plip …
~ Plip Plup, lagu Pena 2004

Aku anak sehat tubuhku kuat
karena ibuku rajin dan cermat
~ Aku anak sehat, lagu Pena 2004

Hingga lagu yang legendaris ini, masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Aku tidak tahu siapa penciptanya, mungkin kamu tahu? Oiya saranku, cobalah nyanyikan ini dalam suasana tenang, dan pejamkan matamu, kemudian dendangkan.

Smalane suci dalam pikiran
Smalane benar jika berkata
Smalane tepat dalam tindakan
Smalane dapat dipercaya
~ Smalane, lagu MOS Smalane sepanjang masa

Ingatkah kamu, masa-masa itu tiap pagi kita berjalan melewati koridor, menyampaikan salam pada tiap kakak-kakak senior. Sebut saja mereka mbak mas panitia.

“Selamat pagi mas!, Selamat pagi mbak!” ucapmu tiap bertemu mbak mas panitia.

“Yang keras dek! Cowok kok suaranya pelan gitu!” itu yang akan kau terima jika ucapan salammu tak sesuai ekspektasi mereka.

Lain lagi jika ceritanya seperti ini.

“Selamat pagi mbas!”

“Eh jancik ngawur kon, Ndik.”

“Hahaha, iyo pek. Ayo sing cepet mblayune.”

“Heh! Heh! ngomong apa kamu tadi?!!” lalu mbak mas pun mengejar kami.

Saking tergesa-gesanya kamu menjama’ pengucapan “mbak” dan “mas” hingga menjadi “mbas”. Tapi disitulah seninya, kalau tak begitu kamu tak akan punya satu cerita lucu yang akan kamu kenang hingga sekarang.

Tuh kan bener kan kamu masih ingat tiap detail yang kuceritakan ini? 😀

***

Tahun pertama, kedua, ketiga kami lewati dengan suka cita, duka lara, sedih senang, sedu sedan. Lengkap lah pokoknya. Ada benci, ada cinta, ada sayang, ada rindu, ada perselisihan, ada keakraban. Semoga saja pada akhirnya tidak ada dendam diantara kita.

Bicara kisah akademis? O, banyak sekali. Apakah kamu ingat saat hasil ujian fisika dibagikan? Hanya beberapa gelintir yang tidak remidi. Apakah kamu ingat dua siswa yang mendapat nilai bagus pada UAS Kimia namun sang guru tak percaya dengan hasilnya karena sebelum-sebelumnya mereka selalu remidi? Pada akhirnya mereka remidi UAS walau nilai mereka sebenarnya bagus. Sungguh konyol!

Bicara kisah persahabatan? O, tak kalah banyaknya. Ingatkah kamu tiap berapa hari dalam seminggu maen ke rumah Iqra, maen PES, nonton dvd terbaru (mulai film-film box office sampai film-film yang ah syudahlah..), ngeband di studio pribadi milik Iqra.

Bicara kisah religius? O, meski kami agak nakal tapi kami tak pernah alpha mengadakan i’tikaf bersama di masjid Al Akbar tiap ramadhan tiba.

Bicara kisah cinta? Lumrah saja sepasang anak muda saling jatuh cinta. Kemana-mana bersama, gelak tawa, wajah-wajah merona. O, dunia serasa milik berdua.

Sebut saja beberapa nama di kelas kami yang dulunya menjalin kasih, pasti kamu sudah tahu siapa. Kini kami telah menemukan jodohnya masing-masing. Meskipun sebagian dari kami masih menanti dengan cemas dengan siapa berjodoh kelak. Apa yang dulu dikhawatirkan, ternyata sekarang tidak apa-apa. Apa yang dulu diprediksikan begini, ternyata jadinya begitu. Ternyata banyak sekali yang berubah, dan di luar kendali kita.

***

Dulu, kita hanya sekumpulan orang asing yang terpilih terakhir. Belum mengenal benar satu sama lain namun mencoba ‘saling’ dalam sepekan. Pekan yang menjadi awal masa putih abu – abu. Pekan penuh kenangan yang mungkin tidak akan pernah kita lupakan seumur hidup.

Rasanya baru kemarin masa itu usai. Kebersamaan tiga tahun pada akhirnya harus berujung perpisahan yang tidak bisa kita hindari. Perpisahan lantas merentangkan jarak di antara kita. Membuat kita tak lagi mudah menghabiskan waktu bersama. Bahkan terkadang memaksa kita untuk memilih, mendahulukan ‘kita’ atau prioritas lain di hidup masing – masing.

Toh, perpisahan tidak membuat kita berhenti. Alih – alih melemahkan, perpisahan justru menguatkan ikatan.

Maka inilah kita di tahun ke – 10..

Kita yang tidak lagi asing satu sama lain. Kita yang masih ‘saling’ hingga hari ini.

Dan bersama kalian, segala yang telah dilalui selalu terasa seperti hari kemarin.

***

page-lasso

* postingan ini ditulis oleh saya dan Intan. Terimakasih juga bantuannnya Diaz untuk ngelist profesi temen-temen. 🙂

Advertisements

2 comments

  1. […] Sebagai postingan pembuka, akan kami reblog beberapa paragraf tulisan dari blog Dzulfikar berjudul “Dekade”. […]

    Like

  2. […] tiba-tiba menjadi hidup semenjak tahun 2004 lalu. Nama Lasso pernah saya singgung pada postingan sebelumnya.  Pertemanan kami tak kan ada habisnya untuk […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: