Si Mbah Penjual Kue Tangkong

Setiap hari Jumat siang saya bergegas menuju stasiun subway untuk segera menuju masjid. Kira-kira seratus meter sebelum sampai di stasiun selalu tercium semerbak harum kue tangkong. Tapi tidak lantas saya tuntaskan saat itu juga, nanti setelah jumatan selesai.

Selepas jumatan, sekeluarnya dari stasiun saya lebih memilih berjalan kaki daripada menaiki shuttle bus untuk menuju kampus.

“Gak ngebis ta?” tanya Mas Andy, teman lab saya.

“Nggak mas, mlaku ae, sekalian nyambangi simbah.”

“Yoo, oke. Pancet ae senenganmu.”

“Lha murah dan enak ee.”

Sesampainya di booth si mbah, seperti biasa saya hanya memesan satu bungkus.

Tangkong ijonen juseyo (Beli kue tangkongnya seribu, tolong)”

“Iee, blablabla (sepertinya bertanya sesuatu tapu saya nggak paham si mbah ngomong apa),” sambil memasukkan sekitar sepuluh kue tangkong pada bungkus kertas.

Anyeong hi gaseyo, Jalgayo (selamat tinggal, sampai jumpa lagi),” ucap si mbah sambil memberikan bungkusan tangkong pada saya.

Anyeong hi gyeseyo (selamat tinggal),” kami pun melenggang pergi.

Hap! Segera kuambil satu-dua biji kue tangkong untuk kumakan, lalu menawarkan pada mas Andy dan pak Suryo yang saat itu juga kebetulan lagi jalan bareng.

“Enak e Fik, piroan iki?”

“Sewuan pak, murah nemen kan.”

“Murah men, opo nggak rugi mbah iku?” tanya pak Suryo pada saya.

“Mbuh Pak, yo mangkane dilarisno wae. Awakdewe kan isone cuma iku”

***

Si mbah penjual tangkong itu adalah sepasang suami-istri, kita sebut saja kakek dan nenek. Mereka kira-kira berumur tujuh puluhan. Meski sudah berusia senja, namun masih cekatan melayani pembeli. Selama beberapa kali membeli disana, mereka selalu berjualan berdua, hanya beberapa kali saja yang berjualan salah satunya.

Saya amat-amati, mereka berbagi tugas tanpa menunggu perintah lainnya. Misal saat si kakek menuangkan adonan ke cetakan, si nenek membungkus pesanan pembeli. Begitu juga sebaliknya. Tentu jangan membayangkan adegan mesra ala film drama dimana mereka saling melempar senyum atau mencubit mesra ketika sedang menyiapkan pesanan pembeli. Malahan, kakek dan nenek melakukannya dengan sewajarnya saja, tapi dalam pandangan saya mereka luar biasa mesra. Tetap berjuang menjemput rezeki bersama di usia yang tak lagi muda.

Tempat berjualan kakek dan nenek berada di depan tempat kursus bahasa inggris. Pernah sekali waktu saat saya membeli, bertepatan dengan jam selesai kursus. Berpuluh anak seumuran sekolah dasar berhamburan keluar, beberapa mengantri membeli kue tangkong, beberapa lainnya langsung masuk ke mobil antar jemput yang sudah siap menunggu, dan lebih banyak lainnya yang menuju toko penjual waffle yang berlokasi tak jauh dari sana.

Semoga dagangan si mbah tetap laris, meski harus bersaing dengan jajanan yang lebih modern.

* update, Jumat tadi (8 Januari 2015 saya mampir lagi dan mendapati kakek-nenek jualan bersama)

Advertisements

4 comments

  1. Halina Said · · Reply

    Pernah ada film korean, tokoh utamanya jualan kue di booth kayak gini juga. Gak tau kue apa. Lupa. Hehehhe

    I got your points, Fik. Menurutku romantis itu bukan bunga, coklat, dinner, lagu cinta atau sejenisnya. Setuju banget sama tulisan ini. Romantis ituuuu ya gitu deh hahahha

    Like

    1. Nah bener Han, samean yang sudah berumah tangga pasti lebih paham rasanya 🙂

      Like

  2. Mas itu rasa kuenya kayak apa?

    Like

    1. Rasanya seperti pukis (jajanan surabaya) tapi ini lebih kecil dan kering Dhe. di dalamnya ada kacang sebiji.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: