The Pianist, Kisah tentang Ketegaran Wladek Szpilman

The-Pianist-Movie-Based-on-True-StoriesKisah tentang holocaust selalu menarik untuk difilmkan, meskipun tentu saja ada pro dan kontra yang menyertainya. Sebut saja beberapa judul film dengan tema serupa seperti Schindler List, Life is Beautiful, Defiance, dan The Pianist. Meski berjudul The Pianist, film ini tak melulu menyajikan adegan lelaki yang memainkan pianonya dengan dahsyat dan dipenuhi romantika kisah cinta dengan gadis dari masa lalu seperti pada film Taiwan keluaran tahun 2007 yang berjudul “Secret” . Sebaliknya, film keluaran tahun 2002 yang ceritanya berdasar kisah nyata ini mengisahkan perjuangan seorang pianis dalam bertahan hidup di tengah kecamuk perang dunia dua.

Kisah dimulai di kota Warsaw, Polandia, September 1939. Tepat disaat pecahnya perang dunia dua. Mengambil tokoh sentral seorang pianis, Wladek Szpilman yang bekerja di sebuah radio lokal di kota Warsaw. Saat sedang asyik memainkan piano live untuk siaran radio, tiba-tiba sebuah bom meledak. Di tengah evakuasi, seorang gadis manis berambut sebahu bernama Dorota mengungkapkan kekaguman akan kepiawaian Szpilman dalam bermain piano. Dari sinilah kisah cinta antar dua insan itu bermula.

Belum sempat merasakan manisnya hidup bersama Dorota, Jerman yang saat itu dikuasai kekuatan Nazi menginvasi Polandia. Seluruh penduduk yahudi dialienasi, awalnya mereka diwajibkan mengenakan handband bergambar bintang david sebagai penanda bahwa mereka orang-orang yang wajib di-alien-kan diantara penduduk kota. Tak lama kemudian Jerman memerintahkan seluruh penduduk yahudi di kota Warsaw untuk pindah ke daerah pengasingan, yang juga masih di dalam kota Warsaw, namun sekelilingnya dipagari tembok sangat tinggi. Keluarga Spzilman pun tak luput dari pengasingan tersebut. Bersama dengan itu pula perpisahan Szpilman dan Dorota tak dapat dielakkan.

Kisah sang pianis berlanjut, karena suatu peristiwa ia harus berpisah dengan keluarganya yang dibawa tentara Jerman ke tempat pemusnahan massal. Szpilman tak mau larut dalam kesedihan, ia terus mencoba bertahan hidup dengan segala cara, dengan bantuan temannya yang bernama Majorek, ia berhasil kabur ke daerah luar pengasingan selama beberapa minggu lamanya. Di saat kabur itulah Szpilman merasakan pergolakan batin. Ia tinggal di sebuah kamar losmen yang cukup nyaman di daerah yang tak jauh dari daerah pengasingan. Dari jendelanya ia dapat melihat tembok yang memisahkan dua umat manusia, yahudi dan bukan yahudi. Ia merasa hidup di tempat yang salah, ia berada di pihak musuh.

Karena suatu kondisi darurat ia harus menemui seorang lelaki di sebuah rumah. Namun ternyata disana ia bertemu Dorota, kekasih yang sudah bertahun lamanya berpisah dengannya. Malang tak dapat ditolak, ternyata kekasihnya kini telah bersuami. Dengan bantuan suami Dorota akhirnya Szpilman bisa tinggal dengan aman di sebuah losmen yang lagi-lagi tak jauh dari tembok pengasingan.

Kondisi Warsaw kembali kacau, Szpilman kembali terpisah dengan Dorota, ia menyeberang ke daerah pengasingan yang tinggal puing dan bertahan hidup selama beberapa hari di sana. Di tengah persembunyiannya tiba-tiba muncul seorang tentara Jerman, kapten Wilm Hosenfeld. Dalam rasa lapar yang amat sangat dan rasa takut akan dibunuh oleh sang kapten, ia seakan mendapat mukjizat. Szpilman dipersilahkan sang kapten untuk memainkan piano. Dalam kondisi kelaparan dan badan lemah, Szpilman memainkan melodi gubahan Chopin’s “Ballade in G Minor”. Setelahnya, sang kapten malah memerintahkannya untuk bersembunyi di tempat yang aman untuk beberapa minggu ke depan, karena menurut sang kapten tak lama lagi perang usai. Tak hanya itu saja, beberapa kali sang jenderal mengunjungi, memberinya roti dan sebungkus selai stroberi, juga memberi jubah tentaranya kepada Szpilman agar tak kedinginan di dalam persembunyian.

Akankah Szpilman berhasil bertahan hidup hingga perang dunia dua berakhir dan kota Warsaw kembali dalam kondisi damai? Akankah jubah tentara Jerman yang dipakainya akan membawa bencana baginya? Dapatkah ia bertemu kembali dan membalas jasa kapten Wilm Hosenfeld yang telah menyelamatkan hidupnya?

Film ini memborong beberapa piala Oscar sekaligus dalam Academy Awards 2003, hasilnya ialah Best Director untuk Roman Polanski, Best Writing dan Adapted Screenplay untuk Ronald Harwood, dan Best Actor in Leading Role untuk pemeran Spzielman, Adrian Brody. Selain itu The Pianist juga memborong berbagai penghargaan film internasional lainnya seperti BAFTA Award, Award of Japanese Academy, Cannes Film Festival, dan beberapa award lainnya.

Seringkali di tengah-tengah menonton film ini, saya termenung-menung akan kehidupan ini, apa perlunya peperangan, dampaknya bagi umat manusia, kenyamanan hidup, apa yang sebenarnya dicari dalam hidup, keimanan kepada Tuhan, dan lain sebagainya. Maka tak salah jika saya sarankan anda menonton film ini sendirian atau hanya bersama orang dekat, cukup dua atau tiga orang saja, jangan beramai-ramai, apalagi disertai canda tawa.

Jadi, anda semakin penasaran dengan film ini? Oiya, jangan lupa siapkan tissue ketika menonton.

 

* tulisan ini dimuat juga dalam blog FLP Surabaya dengan judul yang lebih dramatis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: