Seputar Gojek dan Warnet Pak Imam

Pembuka

“Asli Suroboyo ta, Mas?”

“Iyo Pak, aku asli Wiyung”

“Oo, rumah saya di Kedurus, Mas. Warkop giras pojokan. Kalau sampean mau dolan, bilang saja ke rumah/warkopnya pak Imam. Semua sudan kenal.”

“Lho, tapi kok ngojek, Pak?”, tanyaku

“Iya, Mas. Buat tambahan nyangoni anak sekolah, Mas. Lumayan.” katanya.

Itulah percakapan pembukaku dengan pengendara gojek yang dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul tentang persoalan hidup sehari-hari. Meskipun ngojek, sebenarnya ia pemilik warkop (warung kopi) giras dan pemilik warnet (warung internet) di daerah Kedurus Surabaya yang dikelola bersama keponakannya. Ia bercerita bahwa ngojek hanya sebagai sampingan.

Warung kopi ia serahkan penuh pada istrinya. Sedangkan warnet merupakan usaha patungan bersama ponakannya yang jago komputer. Omzet warkopnya lumayan untuk menghidupi keluarganya. Pun penghasilan dari warnet bisa dibilang tidak sedikit .

Seputar Warnet

“Lumayan banyak mas dapatnya dari warnet. Apalagi pas musim liburan sekolah seperti sekarang.”

“Oh paling banyak anak sekolah ya pak?”, tanyaku sekenanya.

“Iya mas, anak sekolah paling banyak. Tapi kalau pas jam sekolah ya saya larang masuk. Pokoknya kalau masih pakai seragam ya saya larang masuk. Aturannya kan begitu. Soalnya lumayan sering ada razia satpol PP. Daripada ada masalah, mending saya larang sekalian.”

“Internetnya pake provider apa pak? Lancar di daerah sana?”, kualihkan topik secara tiba-tiba.

“Pake Telkom Speedy mas. Sebelumnya pake Indihome, katanya cepet. Ndilalah kok malah lambat. Ya saya laporan ke Telkom, minta balik lagi ke Speedy. Kalau malam malah lebih cepat daripada jam kerja.”

“Iya banyak yang pake pak. Emang paling rame pengunjung kapan biasanya?”

“Ya paling rame malah tengah malam sampe pagi hari.”

“Jadi gak ngefek ya, Pak? Kan kalau siang lambat tapi pengunjungnya sedikit. Malam gak lambat dan pengunjungnya banyak. Ha ha ha.”

“Haha iya mas, untungnya gak ngefek.”

Seputar Gojek

Tak terasa setengah perjalanan pun berlalu. Kini obrolan kami berganti ke dunia per-ojekan lokal-nasional. Seperti kita tahu Gojek yang didirikan oleh Nadiem Makarim pada tahun 2010. Seiring dengan promosi tarif murah yang digencarkan dan penggunaan teknologi terkini sebagai basis layanan, Gojek mampu merajai pasar ojek. Meskipun Gojek mengidentikkan diri dengan perusahaan berjiwa sosial yang memimpin revolusi industri transportasi ojek, namun pada kenyataannya malah “menyingkirkan” keberadaan ojek pangkalan dan juga taksi konvensional. Hal itu terjadi di hampir seluruh kota dimana Gojek beroperasi. Menurutnya, di Surabaya jumlah pengemudi Gojek masih belum seramai di Jakarta. Meskipun begitu ia mengaku akhir-akhir ini orderannya menurun karena jumlah pengendara Gojek yang semakin bertambah. Selain itu, di Surabaya ada saingan dari perusahaan sejenis di seperti Ojesi (Ojek Syar’i), Cak-Trans, dan Uber / Grab Taxi yang tarifnya (masih) murah.

“Hmm. Kenapa lebih memilih Gojek daripada Cak-Trans, Pak? Kan sama ojeknya?”, tanyaku sambil membetulkan tas ransel yang mulai melorot.

“Wah berat, Mas. Ada tuh teman saya pengendara Cak-Trans. Karena sistemnya seperti taxi, jadi armadanya milik perusahaan, dan menggunakan argo. Jadi tiap pengendara diwajibkan setoran pada perusahaan sehari Rp. 80.000.”

“Wah, kalau sistem setoran berarti harus full time ya buat mencapai target? Emang kalau Gojek sebagai sampingan omzetnya gak banyak ya pak?”, timpalku penasaran.

“Saya hari ini aja baru dapet dua order Mas. Termasuk Sampean.”

“Hmm, saya kira sehari bisa dapat order banyak walau sampingan.”

“Wah itu sih dulu Mas, ha ha ha.”

“Berarti nyaman ya pak kerja di Gojek? Kok masih tetap bertahan.”

“Wah ya nggak juga. Saya pilih Gojek karena kan waktunya fleksibel. Tapi sejak ada info kalau tarif minimal gojek diturunkan. Teman-teman sesama pengemudi Gojek pada demonstrasi Mas. Udah dapet ordernya susah, harganya diturunkan pula. Lha kita kan jadi repot.”

“Hmm gitu ya Pak. Lalu untuk masker, jaket dan helm diberi oleh perusahaan kan ya? Omong-omong. Sampean kok gak pake jaket?” sebenarnya ini membuat saya penasaran dari tadi.

“Iya Mas. Diomeli istri saya terus, katanya jaket saya bau, jadi ya dicuci. Gak ada gantinya lagi, cuma dikasih satu. Kalau beli lagi bayar Rp. 180.000. Mana jaketnya panas. Kalau kata temen-temen gak sumbut sama harganya.”

“Ooh, ya ya.”

“Terus untuk masker cuma dijatah sepuluh masker per minggu, padahal dulu awal-awal kalau minta gak pake dijatah. Jadi seringnya kalau habis temen-temen pada beli sendiri di apotek.”

“Oalah jatahnya sedikit toh. Memang pernah ada kasus ya Pak kok jadi dijatah sedikit?”

“Iya Mas, pernah kejadian di Surabaya, pengendara sering minta masker. Dan frekwensinya gak wajar. Eh setelah diselidiki ternyata maskernya dijual lagi.”

“Wah yo gak tepak iku, Pak”

“Iyo Mas, gak tepak blas. Cari rejeki kok begitu caranya.”

“Iyo yo Pak. Cari rejeki yang wajar-wajar saja. Yang penting halal.”

Penutup

Dari kejauhan nampak papan merah penunjuk nama SPBU Arjuno. Itu artinya saya hampir sampai di tempat tujuan.

“Sudah sampai Mas.”

“Totalnya tadi Rp. 27.000 ya, siapa namanya tadi Pak? Pak Imam ya? Suwun, ini uangnya.” kuserahkan beberapa lembar uang sekaligus helm hijau itu.

“Iya, sama-sama Mas. Kalau mau dolan ke warung giras bisa langsung telepon nomor saya yang tadi.ya.”

Kuacungkan jempol. Lantas kuamati motor pak Imam dari kejauhan. Motor maticnya terlihat mini jika dibandingkan dengan badannya yang bongsor.

 

Busan, 21 Oktober 2016.
Mengingat kembali pengalaman pertama naik Ojek.

Referensi :

  1. How does Gojek generate revenue? https://www.quora.com/How-does-Gojek-generate-revenue
  2. Sejarah Gojek Indonesia https://id.wikipedia.org/wiki/GO-JEK, diakses pada 21 Oktober 2016 pukul 01:02
  3. Apa itu Gojek https://www.go-jek.com/, diakses pada 21 Oktober 2016 pukul 01:11
  4. Ojesy, Ojek Syar’I http://www.ojeksyari.com/ , diakses pada 21 Oktober 2016 pukul 01:16
  5. Cak Trans http://caktrans.id/, diakses pada 21 Oktober 2016 pukul 01:19
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: